„Küsse“

Nuttenkinder

Nuttenkinder is a group of two artists – Manuel Heischel and Marc Jung -.
Both founded Nuttenkinder as a progressive art-group and
trademark in Erfurt Germany in 2006 and start up with the production of their own fashion, designer toy collection and the special Nuttenkinder art-work.

Description “Scannogramme”

“Scannogramme” is a working process with an ordinary computer scanner. Marc Jung use this scanner like a photo camera. The object he uses to scan up in this work is his own face. After the scanning process the artist doesn´t use any other computer software to change the image. The works are not manipulated like a photomontage. The work catches a special moment of time and of course a certain kind of feeling, too.

This time at the “küsse” (engl. “kisses”) exhebition you can see different dimensions of love in the pices. The artist produced this new pictures only by smacking down the head on the scanner, so the periode of touching the scanner surface is very very short because the head is coming up again very fast because of a reflex.

The whole process is similar to a kiss and everything which follows such a little thing. You have the short periode of joy and happiness exactly in the moment when you kiss somebody. But somehow you know that you give up something, some of your saftiness, the sure feeling everything is in your hands.

Nuttenkinder Artists

Manuel Heischel
Born 1980 in Erfurt, Germany
Currently lives, works and studies in Erfurt Germany

Education

2001: Social Science at the University of Applied Sciences, Erfurt
Germany
Since 2002: study Architecture at the University of Applied Sciences, Erfurt
Germany
2006 Architecture at the KazGASA, Almaty Kazakhstan
2006-2007 Architecture at the ITB, Bandung Indonesia

Marc Jung
Born 1985 in Erfurt Germany
Currently lives, works in Erfurt- and studies in Weimar Germany

Education

Since 2006: study in the Faculty of Fine Arts and Design at Bauhaus
University, Weimar Germany

Selected Exhibitions:

1999: at open space exhibition, Bangkok Thailand
at Social Art Worldcomm, Pattaya Thailand
Since 2002: permanent at Schöne-Luther Gallery, Görlitz Germany
2003: at Art Gallery Riesa e.V., Dresden Germany
at Gallery Grönbacken, Erfurt Germany
Architecture- and Photo Art, Oslo Norway
Since 2004: permanent at House of Fine Arts, Erfurt Germany
permanent at Zughafen Gallery, Erfurt Germany
2004: at Federal Exhibition of Fine Arts in the District Administration Office,
Kamenz Germany
Since 2005: private Exhibition, Copenhagen Denmark
2005: at National Federation of Fine Arts Gallery, Erfurt Germany
2006: at KazGASA, Almaty Kazakhstan
at Gallery IPTEK for “New Media Art-Teknofutura Mengada-ADA”,
Bandung Indonesia
at Soemardja Galeri for own exhibition “CIK CUK Nuttenkinder and
Friends”, Bandung Indonesia
at Eigenheim Gallerie for “Bilderwahn”, Weimar Germany
2007: at Toi Moi Galeri for “Black Urban Art”, Jakarta Indonesia
at Soemardja Galeri for “Good morning: City Noise!!-Sound Art
Project” Bandung Indonesia
At Eigenheim Gallerie for “Lost Pilots”, Weimar Germany

Art Performance:

2003: Photo and Action Art, Warschau Poland
2006: Pasar Seni Art Festival own performance “Art Recicle”, Bandung
Indonesia
Djarum Super Musikfestival “Weekend Rendevous Sound of
Independent”, Bandung Indonesia

Awards:

2003: Finalist of Debitel Design Competition “Komunikation”,Germany
2004: Finalist of Braun-Ideen aus Stein “Kunst auf Straßenpflaster”, Ulm
Germany

 

 

Solo Exhibition

See online catalogue here

 

Solo Exhibition

Agus Kemas ; The Music in Cubism

24 May – 12 Juni 2007

Opening :

Kamis / Thursday, 24 May 2007

19.30 WIB

At Cemara 6 Galeri

Di buka oleh :

Marusya Nainggolan

( Musisi dan Ketua GKJ)


The Music In Cubism

Karya-karya Agus Kemas dalam pameran kali ini masih bertema tentang kehidupan para musisi, dari berbagai budaya. Dari klasik barat hingga musik tradisi di Bali. Dari mulai musik kamar hingga musisi jalanan. Terekam diatas kanvas-kanvasnya dengan beragam warna yang teduh. Lukisan – lukisannya meminjam gaya yang cenderung kubistik. Musik merupakan bahasa kontekstual, begitupun dengan lukisan. Dalam karya Kemas, keduanya seolah saling menguatkan dalam fragmen yang sendu dan melankolik. Suatu harmonisasi tercipta.

Citra-citra musisi yang terepresentasikan dalam lukisan Kemas seperti memberikan isyarat adanya kemajemukan nilai, karena musik adalah ungkapan ekspresi suatu masyarakat. Lewat bentuk – bentuk instrumen , ciri pakaian dan gestur tubuh, kita dihadapkan keragaman latar belakang sejarah – budaya serta perilaku manusia terhadap lingkungannya. Kita bisa melihat citra figur para musisi Eropa, Amerika, Timur Tengah, hingga Asia: China, dan tentunya beragam musik dari Nusantara. Citra musisi dari penjuru dunia ditampilkan lewat lukisan yang membentuk struktur persegi empat. Bak untaian mosaik yang terangkai membentuk citra figur dan suasana.

Corak kubisme pada karya Kemas juga menarik. Perkembangan gaya melukis kubisme di Indonesia dimulai di kalangan akademi seni rupa, seperti di Bandung dan Jogja, antara dekade 50 dan 60-an. Kubisme mulai di praktekan oleh para pelukis dari Eropa, dengan para tokohnya Pablo Picasso dan Georges Braque, dan kemudian menjadi gerakan artistik modern yang cukup penting dalam sejarah seni rupa di Barat awal abad 20. Kubisme sendiri merupakan metoda melukis cara formal, dengan mengamati struktur subyeknya, sebagai suatu analisa. Biasanya pada karya kubistik, subyek yang dilukis menjadi terpecah, karena pengamatan dari berbagai sudut pandang. Disini realitas subyek menjadi terurai sedemikian rupa menjadi transparan, dan nyaris terabstraksi.

Di Indonesia, kubisme diajarkan sebagai suatu jalan memahami estetika modern dalam pendidikan seni rupa. Lalu para perupa seperti Ahmad Sadali, But Mochtar, Mochtar Apin, Handrio, sering menampilkan lukisan bercitra kubis. Beberapa waktu lalu diselenggarakan pameran keliling, “Asia Cubism” , yang mengetengahkan pokok soal praktek seni lukis kubisme di Asia, seperti Jepang, Korea, China, Filipina, Indonesia dan negara Asia lainnya. Pada prinsipnya pameran ini berupaya melihat kembali praktek melukis kubisme di Asia, dimana terjadi berbagai perbedaan penafsirannya, yang mempunyai watak tersendiri.

Pada karya-karya Kemas, corak kubisme mungkin tak berarti harus dilihat sebagai suatu analisa terhadap realitas, tidak membuat penguraian terhadap subyeknya, cenderung dekoratif. Dengan mengisi struktur bidang-bidang persegi dengan seliweran garis – garis yang apik dengan penerapan warna – warna yang matang. Sehingga kubisme bukan lagi sebagai penataan visual modern yang ketat, tetapi suatu penataan dengan perasaan estetika terhadap imajinasi lingkungannya. Kubisme disana bisa dipahami sebagai citra ornamen, komunikasi budaya, dan sekaligus wahana pembentuk citra dari realitas dalam pikiran.

BIOGRAFI

AGUS KEMAS
born in Blitar Okt . 17. 1945

Exhibition:
1993:
-Yotsuike Yamaha Gallery, Tokyo
-Gallery Yama Guchi, Tokyo
-Created Hamamatsu, Japan
-Contemporary Painting Gallery ,Kobe, Japan
-Tensodho Gallery , Fukuoka, Japan
1993-1994:
-Exhibition Alhambra, Turkey
-Invitation East & West Turkey , Istambul
-Daglioglu Gallery, Turkey
1992:
-Exhibition “Diponegoro Museum”,Jogya
-Expressionist Gallery ,NSW Australia
-Regent Park Hotel, Singapore
1994:
-Gallery Cipta, Taman Ismail Marzuki,Jakarta
-Gallery Utama ,Taman Isamil Marzuki,Jakarta
1993-1994:
-Antique Palace Cremona, Italy
-Great Tower Cremona, Italy
-Artistico De Trologo, Italy
1995-1996
-Enteos Club Source, BRI Tower
-World Trade Center , Jakarta
-Gallery Balai Budaya, Jakarta
1985:
-DKS Hitam Putih, Surabaya

 

Pameran Patung Keramik

IT’S FUN 2 B A WOMAN

Menjadi perempuan tidak pernah menjadi hal yang biasa,
tetapi luar biasa. Terlebih lagi menjadi perempuan yang menyenangkan!
Its fun to be a woman!

26 April – 15 Mei 2007

Karya Ika W.Burhan & Ira Suryandari

Pengantar Pameran

Keramik sebagai medium ungkapan seni memang selalu menantang bagi beberapa orang. Selain melibatkan proses yang panjang, seni keramik juga membutuhkan pengetahuan bahan secara khusus. Praktek seni keramik saat ini, sedikit demi sedikit, mendapatkan perhatian dari kalangan muda. Hal ini juga mencerminkan mulai besarnya penghargaan dan perhatian pada keberagaman medium artistik dalam wacana seni kontemporer di tanah air. Cemara 6 Galeri, hampir tiap tahun program pamerannya berupaya menampilkan keberagaman penjelajahan medium seni. Selain juga menampilkan kecenderungan artistik.

Pameran kali ini menampilkan dua perupa muda, yang bergelut dengan medium keramik, dan persoalan-persoalan mereka dengan kesehariannya. Ika W.Burhan dan Ira Suryandari menampilkan karya-karya patung keramik mereka dalam pameran bertajuk “ It’s Fun 2B Women” . Karya mereka menampilkan beragam gestur sosok perempuan-perempuan, berukuran kecil. Ira menampilkan kecenderungan untuk berkomentar tentang manusia disekitar secara keseharian, dengan watak karikatural. Walaupun kali ini lebih menyoroti tema kaum perempuan, namun dari sisi yang lebih intim. Dengan bentukan berdasar silinder dan lempeng, Ira secara artistik menunjukan kehalusan dalam menggarap medium. Seringkali ia memberikan sedikit sentuhan dekorasi di badan patungnya. Dengan pewarnaan glazir yang sekedarnya, sehingga kesan alami badan keramik menjadi sangat dipentingkan, karena memunculkan karakter yang khas.

Ika memilih tema perempuan dengan lebih bergejolak, memancarkan adanya pergumulan jender dalam kehidupan disekitarnya. Tampak dari patung-patungnya yang lebih bertekstur dan bergestur lebih dinamis. Permukaan keramik dipoles dengan pewarna glasir dengan garukan jari-jarinya yang terjejak diatas permukaan lempung, seolah mencerminkan bahwa persoalan seputar isu jender bagi Ika sangat mengganggu dirinya. Mungkin ini juga dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan generasi sekarang. Tetapi menariknya, Ika menggambarkannya segala persoalan perempuan dengan nada yang tak garang, seperti juga Ira, penuh keakraban. Terepresentasikan dari kreasi patungnya yang penuh guyon.

Maka, kiranya bagi mereka berdua persoalan jender tak harus dilakoni dengan cara yang heroik, tapi dengan caranya sendiri. Dengan cara seorang perempuan. Dengan menciptakan komunikasi yang lebih akrab dan santai. ( Cemara 6 Galeri )
Pembukaan

Rabu, 25 April 2007
Pk.19.30 WIB

Dibuka oleh:
Effendy Gazali & News dot Com

Dimeriahkan dengan lagu puisi dan petikan gitar :
Nana – Jubing

artworks

Ika

 

Ika W.Burhan
Bogor, 24 Desember 1970
Pendidikan terakhir: Universitas Indonesia, Fakultas Sastra (FIB),
Jurusan Arkeologi
Pameran yang pernah diikuti:
Pameran Lukisan di:
-Ulangtahun Sastra  UI 2 kali
-Pameran lukisan di gedung pertemuan Pemda Cibinong Bogor
-Pameran lukisan Dies Natalies IPB, Bogor
-Pameran Media Art-Bentara Budaya Jakarta

Melukis secara otodidak sejak kecil, Belajar membentuk tanah liat
dalam bentuk patung secara otodidak hampir 2 tahun belakangan lewat
sebuah kesenangan bermain  dengan tanah liat. Pengenalan dunia tanah
liat dan tehnik dasar pembentukan di Alam Pottery Studio.

 

 

Ira

 

 

Ira Suryandari
Palembang, 9 November 1979

Pendidikan Keramik
1996, Kursus keramik pada Bonny Surya
September 1997 – 1999, Kursus keramik pada Keng Sien

Pameran:Finding Paradiso (Pameran bersama), Galeri Cemara 6, Jakarta, 6-31 Oktober 2005

Beauty Behind the Flame (Pameran bersama Tanah Liat 9), Bentara Budaya, Jakarta, 9 – 8 Februari 2006

 

SEVEN
New Emergence Artists From Bandung

Collaboration Cemara 6 Galeri and Galeri Soemardja, FSRD – ITB

hendra_namaku2k.jpg

 

10th – th April 2007

 

Artists:

 

Nining Fathia | Wendi Mardhania | Luky Supriadi | Aji Kurniawan |
Mujahidin Nurrahman | Trie Aryadi | Ariadithya Pramuhendra

 

mujahidin_purgatory.jpg

wendy_hyenak.jpg

little_miss_china.jpg

aji_truly.jpg

margin_12k.jpg

trie_her_vain_is_made_from_heaven.jpg

 

Luky Supriadi
Bandung, 7 September 1984

2002 – 2007 Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni,
Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007: ‘seven’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2006: ‘Merekamereka’, Galeri Red Point Gallery
2005: ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2004 :‘Seni Cetak Grafis SM3025’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2003: Exhibition and workshop ‘/’baembuw/ ‘, Selasar Sunaryo Art Space

Mujahidin Nurahman
Bandung, 14 November 1982

2002 – 2007 Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni, Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007 : ‘seven’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2006 : ‘Mereka mereka’, Galeri Red Point Gallery
2006: ‘Workshop Seni Grafis bersama Tisna Sanjaya’, Galeri Soemardja
2006 : ‘Workshop Seni Grafis bersama Tisna Sanjaya’, Magelang
2005 : ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2005 : ‘Re : [Post]’ , Japan Foundation, Jakarta
2004 : ‘Pabrik Artifisial, Kedai Kebun Forum’ , Yogyakarta
2004 : ‘Seni Cetak Grafis SM3025’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2003 :‘Ekologi Demokrasi’, Lebak Siliwangi, Bandung
2003 : ‘Inkubasi’, Aula Timur ITB, Bandung

Nining Fathia
Bandung, 17 June 1984

2002 – 2007 Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni, Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007 : ‘seven’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2005 : ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2005 : ‘Tubuh dalam Drawing’, Ci+ Gallery Bandung
2004 : ‘Pabrik Artifisial, Kedai Kebun Forum’ , Yogyakarta
2004 : ‘Seni Cetak Grafis SM3025’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2003 : ‘Ekologi Demokrasi’, Lebak Siliwangi, Bandung
2003 : ‘Inkubasi’, Aula Timur ITB, Bandung

Exhibition Curated
2005 : co-curator ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2005 : curator “Self Potrait”, Ruang Alternatif KGB, Bandung
2005 :curator “dualisme?”, Ruang Alternatif KGB, Bandung
2005 : co-curator pameran tiga kota “Daun Muda”, Padi Artground, Bandung
2006 : co-curator “Mereka me-reka”, Redpoint Gallery, Bandung

Wendi Mardhania
Bandung, 1 February 1983

2002 – 2007 Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni, Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007 :‘seven’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2005 : ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2004 : ‘Pabrik Artifisial, Kedai Kebun Forum’ , Yogyakarta
2004 : ‘Seni Cetak Grafis SM3025’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2003 : ‘Ekologi Demokrasi’, Lebak Siliwangi, Bandung
2003 : ‘Inkubasi’, Aula Timur ITB, Bandung

Trie Aryadi
Bandung, 29 January 1984

2002 – 2007 Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni, Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007 : ‘seven’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2006 : ‘Mereka mereka’, Galeri Red Point Gallery
2006 : ‘Workshop Seni Grafis bersama Tisna Sanjaya’, Galeri Soemardja
2006 : ‘Workshop Seni Grafis bersama Tisna Sanjaya’, Magelang
2005 : ‘Human + Space’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2004 : ‘Workshop Thursday, Edgar Heap Of Bird’, Galeri Soemardja, Bandung
2004 : ‘Seni Cetak Grafis SM3025’, Galeri Soemardja FSRD ITB
2003 : ‘Ekologi Demokrasi’, Lebak Siliwangi, Bandung
2003 : Exhibition and workshop ‘/’baembuw/ ‘, Selasar Sunaryo Art Space
2003 : ‘Inkubasi’, Aula Timur ITB, Bandung

Ariadhitya Pramuhendra ( Hendra )
Semarang 13 Agustus 1984

2002 – 2007: Fakultas Seni Rupa dan Desain, Departemen Seni Murni,
Studio Seni Grafis (Printmaking), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Exhibition
2007 : ” SEVEN ” Galeri Soemardja, Bandung
2006 :The 12th International Biennial Print and Drawing. Exhibition at NATIONAL TAIWAN MUSEUM OF FINE ARTS
2006 : ” Tubuh dalam drawing ” Galery C+ , Bandung
2005 : ” Human + Space ” Galeri Soemardja, Bandung
2004 : ” Pabrik ARTificial ” Kedai Kebun, Yogyakarta
2004 : ” SM 3025 ” Galeri Soemardja , Bandung
2003 : ” Ekologi Demokrasi ” ,Lebak siliwangi Bandung.

Award
2006 ; Honorable Mention, Drawing Award,
The 12th International Biennial Print, Taiwan.

Ajie Kurniawan Azhari
Jakarta, 19 Febuari 1982

2002 – 2007: Institut Teknologi Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Seni Murni, Studio Seni Grafis

Exhibition
2007 : Pameran Seni Grafis “Seven”, Galeri Soemardja, Bandung.
2006 :
– Pameran Seni Grafis, hasil Workshop Studio Seni Grafis FSRD-ITB, Galeri Soemardja Bandung, Galeri Lontar.
– Pameran Fotografi “Portografi”, Galeri Kita, Bandung.
2005 :
– Pameran Fotografi “Sathon Samoang Atjeh”, Hanz Café and Art Gallery, Bandung.
– Pameran Seni Grafis “Human+Space”, Galeri Soemardja, Bandung.
2004 : Pameran Seni Grafis “ARTificial”, Galeri Kedai Kebun Forum, Yogyakarta.
2003 : Pameran Seni Grafis “SM 3025”, Galeri Soemardja ,Bandung.

Workshops
2006 :
– Workshop Wayang Kardus bersama Heri Dono, Galeri Soemardja, Bandung
– Workshop Cat Air bersama Agus Suwage, Galeri Soemardja, Bandung
2002 : Workshop “Bamboo Workshop”, Selasar Sunaryo Art Space

 

Pameran Lukisan /Painting Exhibition


HERE. THERE

Karya – karya/ Works of Sandra Nyberg ( Finlandia )

20 – 30 March 2007

Pameran ini didukung oleh : Kedutaan Besar Finlandia di Jakarta
This exhibition supported by : Embassy of Finland – Jakarta

Catatan Tentang karya – karya Sandra Nyberg

Here ( Disini) . There (Disana), merupakan pameran tunggal pelukis kelahiran Finlandia Sandra Nyberg di Jakarta. Karya-karya Sandra , secara visual memperlihatkan karakter yang khas dan menarik. Dengan beragam pilihan tema; pemandangan alam , arsitektural, dan figuratif. Dalam tiap lukisannya , tersirat tentang nilai-nilai kehidupan terdekat dan intim, muncul dari pengalaman kesehariannya. Sandra, secara realitas sosial – budaya berada diantara dua kutub budaya dan sosial, antara Finlandia yang sebelah utara bumi, ,dan Australia yang berada di selatan.

 

“Disini”, baginya adalah konteks dimana ia berada , suatu letak geografis, mempunyai ukuran – ukuran yang rasionalitasnya bisa dihitung, alamiah, dirasakan oleh seseorang. Sedangkan, “disana” adalah ruang budaya, yang menyangkut nilai-nilai yang bisa berbeda dari kenyataan, maka ‘disana’ adalah suatu keghaliban yang liyan.

 

Secara perupaan, lukisan –lukisan Sandra didominasi nuansa yang terasa muram, tetapi sekaligus menciptakan kesan yang melankolis bercampur dengan gurauan yang kelam. Penyederhanaan dalam lukisan-lukisannya ; penghilangan rinci wajah maupun lainnya , yang menurutnya tak perlu. Merupakan caranya tersendiri untuk supaya lukisan-lukisannya bisa berkomunikasi dengan pengamat, dan ikut merasakan kegamangan, tegangan diri yang dihadapi sang pelukis.

 

Selain itu, kita masih bisa menikmati garapan artistiknya, elemen – elemen yang ada : penerapan warna-warnanya yang apik namun begitu menjiwai, gestur manusia, gambaran alam, dan dunia benda – benda sekitarnya. Dunia yang akrab tetapi juga penuh narasi janggal dibaliknya. Dan itu ternyata mungkin saja sering kita alami, menemukannya dalam keseharian. “Disini dan disana” adalah dualisme manusia yang selalu ada.

 

Pernyataan Seniman :
Pameran ini memperlihatkan suatu campuran dari karya – karya selama lima tahun terakhir. Beberapa dibuat di Australia, dan beberapa di Finlandia.
Judulnya merujuk pada pasangan dari sesuatu, sangat jelas secara geografis (saya tinggal/bekerja antara Finland dan Australia, pameran ini dipamerkan di dua negara Australia dan Indonesia). Terpenting tentunya hal tersebut merujuk pada perasaan pribadi seseorang kepada soal ‘disini – disana’. Disini, sangat alami, menjadi realitas didalam kehidupan kita dalam keseharian. Tetapi paralel pada yang ‘disana’, yang merupakan suatu dunia yang realitasnya berbeda, yang kita ketahui atau mempunyai hubungan dalam tingkat tertentu, tapi yang akhirnya menempatkan sebagai ‘yang lain’ atau sesuatu yang terjadi diseberang ‘sana’. Saya begitu terkesan dengan “dunia paralel” ini, tiap dunia dengan isu-isunya,nilai-nilai, budaya, dan lainnya, berada begitu berdekatan dengan lainnya. Untuk saya hal tersebut tidak banyak berbeda, tapi kesamaan dan pengertian yang biasa itulah yang saya temukan menarik dan indah. Saya berkarya dengan tema-tema universal seperti masa muda, kepolosan, kerentanan…mencoba menjauhi keindahan, dan membuat monumen pada hal-hal yang kecil, sederhana dan keseharian. Saya mengembalikan karya- karya ke dalam hal mendasar, meninggalkan sesuatu yang tak perlu untuk menjaganya terbuka agar tiap orang membawa pengalaman, dan perasaannya, dan membuatnya menjadi milik mereka. menciptakan ketakmenentuan tentang apa yang benar-benar yang terjadi pada lukisan, dan jika demikian, apa yang terlihat adalah kejadian ‘disini’ atau ‘disana’.

Artist Statement :
The exhibition shows a mix of works from the last five years. Some made in Australia, some in Finland.The title refers to a couple of things, the obvious being a purely geographical one (I live/work in Finland/Australia, the exhibition is shown in both Australia and Indonesia).mMore importantly, though, it refers to each and every ones personal sense of ‘here – there’. ‘here’, quite naturally, being the reality in which we live our everyday life. But parallel to this, there is a whole world full of other realities, that we might know about or have contact with to a certain level, but that the end of the day gets put aside as ‘the other’ or things that are happening over ‘there’.
I am fascinated by these ‘parallel worlds’, each one with their own issues, values, culture etc., existing so close to one another.
For me it is not so much these differences, but the similarities and the occasional understanding that I find interesting and beautiful.I work with universal themes like youth, innocence, vulnerability… trying to bring out the beauty and monumentality in the small, the simple and the everyday. I strip the works down to the basics, leave out anything unnecessary to keep them open for everyone to bring in their own experiences and feelings and make it their own. A mood is set for there to be an uncertainty about what’s really going on in the painting, and if what we see is happening ‘here’ or ‘there’.

 

Biography – Sandra Nyberg
Painter Sandra Nyberg was born in Pargas, Finland in 1977. She attended the Svenska Folkakademin in Borga in 1997 before moving to the Netherlands to study painting and printmaking at the Utrecht School of the Arts in 1998. Upon graduation in 2002 Sandra was nominated for, and won, the Schools ‘Pieck prize’.
Following a one-year exchange to Sydney’s University of New South Wales’ College of Fine Arts in 2001, Sandra returned to Sydney at the beginning of 2003. For the next couple of years she lived, worked and exhibited regularly in both Australia and Finland. In 2005 she returned to Finland, and worked in her secluded countryside studio, where she is now based, while planning ‘here. there.’ – a traveling exhibition that is to be shown in Sydney, Hobart and Jakarta during the beginning of 2007.

 

 

 

 

 

 

 

21 February – 10 March 2007

Photography Exhibition
“ RICE”
by: D! (a.k.a. Dominik)

Austrian born professional photographer Dominik, who is better known by his pseudonym, D!, exhibits a series of his fine-art photographs that deal with the rice plant. From the way rice is planted and the patterns it forms to the way light is reflected during the circle of the day, these photographs show us the intrinsic beauty that is to be found on the paddy fields that are so familiar to many of us. Because his large format photographs are created upon canvas, they take on an appearance such that they could easily be mistaken for paintings. One has to step closer to realise that these images are created from photographs. All this adds to the artistic appeal and sets the work apart from the flood of images with which we are confronted in our daily life; as well as in today’s contemporary art world.

rice-103.jpg rice-22.jpg rice-195.jpg rice-159.jpg

 

 

cemarad2.jpg

Go to the previous years Events