KOMPAS. Rabu, 25 April 2007

Pameran Patung Keramik di Cemara 6 Galeri

Persoalan jender tak harus dilakoni dengan cara yang heroik, tetapi bisa dengan komunikasi yang lebih akrab dan santai. Bisa juga secara guyon. Hal itulah yang coba diungkapkan Ika W Burhan (36) dan Ira Suryandari (29) melalui karya- karya mereka yang akan digelar dalam Pameran Patung Keramik “Its Fun 2B a Woman” di Cemara 6 Galeri, Jl HOS Cokroaminoto, Jakarta, mulai 25 April 2007. Ira memilih menampilkan gestur sosok-sosok perempuan berukuran kecil dengan watak karikatural keseharian, sedangkan Ika mengangkat tema perempuan yang lebih bergejolak, meski tak garang. Pameran akan berlangsung sampai 15 Mei. (*/sha)

Capturing the simple beauty of rice plant

Features – February 25, 2007

Kurniawan Hari, The Jakarta Post, Jakarta

Beauty is often identified with complexity. Sometimes, however, beauty lies in sheer simplicity.

In photography, simplicity means that you don’t have to go far to find the right object. You may come across a beautiful object right next door.

At least, that is what comes to mind after looking at nearly 30 photographs by Austrian-born professional photographer Dominik at Cemara 6 Gallery, Menteng, Central Jakarta.

Titled RICE by D!, the photo exhibition features magnificent photos of rice taken at different angles and times to create a variety of effects.

“I realize that you can produce many different photos from a plant as simple as rice,” Dominik told The Jakarta Post shortly before the opening of the exhibition, due to run through March 10.

Dominik nicknamed “D!”, said he planned to organize a second photo exhibition on the same object after realizing how many photographs he had produced.

Although the objects are simple, using his skill and sensitivity Dominik has been able to produce wonderful photos of rice that touch his audience.

Some photos feature rice plants at an early age. Others show the plants still green, or more mature and golden.

Unlike many other artists who may add pretentious titles to their works, Dominik has identified his photos simply with a number.

Despite the beautiful photos he had produced, Dominik said there was no special message he was trying to convey at the exhibition.

“I’m simply trying to capture the beauty in rice and how it grows,” said Dominik, adding he took the photos in a rice field within a radius of two kilometers from his home in Seminyak, Bali, near Kuta.

RICE by D! is his third photo exhibition. The previous two featured photos of industrial subjects — places where he had been working.

“Basically, this is my third exhibition but the first with a fine-art theme,” he added.

Dominik is planning to organize another in May. The exhibition on China and its culture will take place in Surabaya, East Java.

“I like to be in China; I like its culture,” he said.

The subject, he said, could be the statue of Buddha from different angles and backgrounds.

Again, this emphasizes how Dominik is a photographer who likes simple things as his photographic subject. For him, the most important thing is to look around for something.

His work as a professional photographer has taught him how to create attractive photos for clients.

“I’m a commercial photographer. I work with the textile, chemical and mining industries. I have to present good pictures to clients. Those fields have become a training ground for me,” he said.

His fondness of simple objects is also supported by his awareness of what a photographer is. He regards himself as a chef who mixes ingredients to produce mouthwatering food.

“On this basis, I combine things to produce good photos,” he added.

Curator Rifky Effendy said that Dominik had given esthetic value to rice. “With his unique style, Dominik has shown the detail of his simple subject. That is something beautiful,” he said.

RICE by D!
Cemara 6 Gallery,
Jl HOS Cokroaminoto 9-11,
Central Jakarta

tel: 3911823

through March 10

Agenda Seni Minggu, 13 Agustus 2006

Pameran “Phantabox”

Pameran seni instalasi bertajuk “Phantabox” akan digelar di Cemara 6 Galeri di Jalan HOS Cokroaminoto No 9-11, Jakarta, dari tanggal 19-25 Agustus 2006. Menurut pernyataan senimannya, Sim F, Phantabox adalah karya seni instalasi pertama yang dibuatnya, perwujudan dari interpretasinya terhadap keingintahuan akan satu hal, juga keinginan untuk membuat sebuah karya yang dapat melibatkan interaksi orang lain secara langsung. “Harapannya, ketika si pengamat mengintip Phantabox, ia akan menemukan pengalaman melalui imajinasi mereka masing-masing dari lubang intip dan ruang yang saya bangun,” kata Sim F.

Tentang Sim F sendiri, perupa ini lulusan Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung pada tahun 1999. Bersama teman-temannya ia pernah menerbitkan Troley Magazine, majalah tentang seni, musik, fashion, dan kebudayaan. Dia juga menyutradarai beberapa garapan video musik. (*/BRE)

Republika. Rabu, 13 September 2006

Ketika Cinta Berbicara di Cangkir Teh

Lewat patung ia menyampaikan jangan sampai hidup ini sia-sia.

Mengungkapkan perasaan cinta dan kasih selalu tak pernah mengenal batas. Di tangan perupa dan pelukis senior, Neneng Ferrier, cinta dan kasih itu ternyata mampu ditransfer secara unik dan sederhana.

Melalui karya lukis dan patung yang terpajang di Galeri Cemara, Jakarta, hingga 30 September mendatang itu, Neneng menampilkan simbolisasi objek berupa cangkir, teko, hingga potongan tangan-tangan manusia dalam beragam ekspresi. Objek-objek tersebut ternyata digunakan Neneng sebagai media merefleksikan diri terhadap proses interaksi sosial yang telah dialaminya sepanjang hayat di kandung badan.

”Teko dan cangkir merupakan benda yang digunakan oleh kita dalam keseharian,” tuturnya dalam perbincangan kepada Republika, kemarin (12/9) di Jakarta. ”Meski sederhana dan dapat ditemui dalam kehidupan kita, tetapi saya melihat teko dan cangkir itu memiliki makna dalam untuk bisa menyampaikan perasaan cinta dan kasih.”

Simbolisasi perasaan cinta dan kasih yang disampaikan perupa ini di antaranya bisa terlihat melalui lima sekuel patung tanpa judul yang terpajang di posisi episentrum ruang pameran.

Hidup jangan sia-sia
Pasangan teko dan cangkir yang disajikan dalam beragam warna (pink, hijau, silver, biru langit, dan biru laut) itu disajikannya dalam tampilan yang berbeda-beda. Ada pasangan cangkir dan teko yang memiliki bentuk sempurna, tapi air yang mengalir dari teko meluap ke luar cangkir. Atau pada tampilan, Neneng menyajikan bentuk yang lebih ekstrem — cangkir dan teko rusak sehingga air tidak mengalir ke tempat sebenarnya.

”Melalui gambaran patung itu saya ingin menyampaikan pesan bahwa jangan sampai hidup kita terbuang secara percuma dan tidak memiliki makna,” Neneng menjelaskan maksud hatinya terhadap patung-patung cangkir dan teko karyanya itu.

Selain menyajikan display patung, perempuan jebolan Academy of Art College di San Fransisco, Amerika Serikat, ini menampilkan pula bentuk ekspresi dirinya melalui karya lukis di atas kanvas.

Salah satu karya yang menampilkan bentuk kepeduliannya terhadap orang cacat bisa dilihat dari karya berjudul Joyfull. Dalam lukisan tersebut, Neneng tak hanya menyajikan display cangkir yang tengah terisi air yang telah meluber, tapi di cangkir itu ia masih menambahkan gambar potongan tangan-tangan manusia.

”Tangan-tangan yang ada di lukisan itu merupakan bahasa tuna wicara,” jelasnya. ”Di sini saya ingin menyampaikan meski mereka tidak bisa bicara, tetapi mereka tetap memiliki perasaan cinta dan kasih yang juga sama seperti kita.”

Cari bentuk
Sementara itu kurator pameran, Rifky Effendy, menyebut dalam pameran tunggal kali ini Neneng sepertinya masih mencoba menjelajahi bentuk metafor dan metonimi melalui narasi cinta-kasih yang begitu dekat dengan kesehariannya. ”Baik dia sebagai seorang perempuan, ibu, istri, dan seniman yang tengah meniti jalan,” katanya.

Bentuk metafor dan metonimi yang disampaikan Rifky itu bisa pula dilihat melalui karya Neneng direpresentasikan dalam bentuk instalasi berjudul Love. Dalam karya tersebut, Neneng menyusun modul yang membentuk konfigurasi tulisan: L, O, V, dan E di dinding secara terpisah dan dibiarkan apa adanya. Dalam hal ini, konfigurasi tulisannya ada yang mengkerut, ada pula yang datar dan bersinar ketika disorot lampu.

”Dalam karya ini tercermin bahwa dalam cinta manusia selalu berbeda kadar satu sama lain, ada banyak hal yang membuat maknanya tumbuh dan hadir karena bentuk ketidaksempurnaannya,” tutur Rifky. (akb )

Saat ini, ketika orang di Jakarta berbicara mengenai songket, umumnya yang akan muncul adalah songket dari Palembang. Mungkin karena Palembang memiliki artisan dan pedagang songket yang giat mempromosikan songket daerah itu di Ibu Kota.

Karena itu, pameran Revitalisasi Songket Minangkabau di Galeri Cemara 6 di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, yang berlangsung sampai Kamis (23/11) membangkitkan rasa ingin tahu tentang perkembangan songket dari sana. Apa lagi pameran mengangkat tema revitalisasi, artinya ada sesuatu yang dibangkitkan kembali. Sayangnya, Ny Mufidah Jusuf Kalla batal membuka pameran pada Kamis (16/11) malam.

Keingintahuan itu terjawab ketika menyaksikan puluhan songket tua berusia 100-an tahun berdampingan dengan songket lama yang direproduksi.

Inilah hasil kerja tim Studio Erika Rianti yang terdiri dari Bernhard Bart, arsitek asal Swiss, yang menaruh minat pada kain tradisi; Erika Dubler, istri Bart; Nina Rianti, seniman Minang dan suaminya, Alda Wimar; dan Nanda Wirawan, pemimpin studio ini.

Mereka memulai dengan mendokumentasi motif kuno yang masih tersisa di Minangkabau dan di berbagai museum, antara lain di Museum der Kulturen Basel dan Historisches Museum Bern di Swiss selain Museum Adityawarman di Padang, serta di toko barang antik.

Ketika jumlah koleksi foto kain songket kuno mencapai ribuan, Nina memunculkan gagasan menenun ulang songket tersebut. Masalahnya, seperti yang tampak di ruang pamer Cemara 6, motif kuno itu indah, sangat rumit, halus, bersih, dan rapi bahkan pada bagian belakang kain. Kain-kain berbenang sutra dan emas itu tampak anggun dengan tepian dihias rajut tangan atau meriah oleh rumbai.

Revitalisasi

Upaya merevitalisasi songket itu berangkat dari kenyataan, kini hampir tidak ada lagi songket Minangkabau yang kualitasnya menyamai songket pada masa lebih dari 100-an tahun lalu. Kebutuhan melayani pasar menyebabkan perajin membuat motif sederhana.

Pembuatan songket dengan motif halus dan rumit tidak lagi dikerjakan karena waktu pembuatannya lama, sulit, dan terbatas acuan pada teknik pembuatan motif lama.

Menenun sehelai selendang, menurut Reno (17), penenun yang didatangkan ke Cemara 6 bersama alat tenunnya, butuh waktu tiga bulan, sementara kain panjang bisa enam bulan.

Padahal, songket untuk masyarakat Minang bukan sekadar barang pakai. Seperti umumnya pada masyarakat Asia, kain menceritakan filosofi hidup. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung), menyiratkan waktu muda sudah berguna apalagi ketika dewasa; motif kaluak paku (lekuk pucuk pakis) menggambarkan sebelum mengoreksi kesalahan orang harus melihat ke dalam diri sendiri; atau motif itiak pulang patang (itik pulang petang) yang distilisasi, menggambarkan kehidupan perantau Minang yang merantau karena kesulitan hidup di kampung halaman, tetapi akan mudik bersama seraya membawa pulang peruntungan di perantauan.

Cermin

Berbeda dari anggapan kebanyakan orang awam saat ini bahwa gudangnya tenun Minang adalah Pandai Sikek, kain-kain tua itu memperlihatkan Nagari Kotogadang di Agam adalah penghasil utama songket indah dan cerdas pada masa lalu. Daerah lain penghasil songket berkualitas, antara lain Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang (Tanah Datar), Padangmagek, dan Muarolabuah.

”Sekarang tidak ada lagi yang menenun di Kotogadang. Mungkin karena kota itu dua kali terbakar. Terakhir tahun 1880,” ujar Alda Wimar dan Nina Rianti. ”Alat tenun habis, penenun tidak punya modal lagi.”

Dapat dikatakan, perkembangan songket Minang adalah cermin perubahan masyarakat yang semakin terbuka pada pasar. Keluhan semacam ini bukan hanya pada songket Minang.

Batik juga mengalami kesulitan dalam regenerasi yang dapat membatik sehalus pembatik pada awal abad lalu. Upah yang tidak setara dengan curahan tenaga kerja menyebabkan regenerasi itu berjalan seret. Padahal, batik dianggap ikon seni budaya Indonesia.

Dan kini, ada upaya revitalisasi kejayaan songket Minang yang dilakukan sepenuhnya oleh anggota masyarakat. Ada baiknya masyarakat Minang dan Indonesia mencontoh upaya ini. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Biennale Jakarta 2006

Tuesday, 01 August 2006

Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter, di dalamnya ada sebuah TV dan video yang memancarkan rangkaian gambar-gambar di dinding hasil karya seorang seniman, disertai alunan musik pengiring. Penikmat bagaikan melihat film narasi seni.

bienale-2 Ada pula sebuah ruangan yang dindingnya ditempelin foto rekaman tempat pembuangan sampah, di depannya ada bangunan dari tumpukan limbah kertas yang dimasukkan dalam bantal-bantal plastik transparan. Itulah antara lain karya dari media bebas pada Biennale Jakarta 2006.

bienale-3Biennale Jakarta 2006 adalah sebuah kegiatan seni nasional yang tahun ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun kota Jakarta ke-479. Kegiatan seni ini terdiri dari pameran karya lukisan dan patung yang diberi nama milestone, merupakan refleksi sejarah seni rupa di Indonesia. Memamerkan karya perupa dari awal pelukis modern Indonesia seperti Raden Saleh, Sudjojono, Hendra, Mochtar Apin sampai Nasirun, Heri Dono, Ipong Purnomo Sidi semuanya berjumlah 180 pelukis. Karya mereka dihimpun dari koleksi museum-museum dan koleksi pribadi, dipamerkan di Galeri Nasional dan di Museum Seni Rupa dan Keramik. Penyelenggaraan dan pemilihan karya dilakukan oleh kurator Eddy Soetriyono dan Suwarno Wisetrotomo.

bienale-4Tema Beyond The Limits and Its Challenges, yang diusung dimaksudkan untuk memamerkan karya para seniman muda dengan media baru seperti video art, fotografi, instalasi dan media teknologi lain hasil pilihan kurator Rizki A.Zaelani dan Asikin Hassan. Hasil seni ini digelar di Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III di Taman Ismail Marzuki.

Hasil karya 7 perupa dari Jepang, AS, Filipina, Jerman, Malaysia, Korea Finlandia dan Italia yang selama ini berkiprah, berkarya dan tinggal di Indonesia dipilih oleh Rifky Effendy, dan dipamerkan di Galeri Cemara 6 dan Galeri Lontar. Karya mereka berupa karya instalasi.

bienale-5Keanekaragaman karya tersebut sengaja dipilih untuk memberikan informasi bagi masyarakat umum tentang kegiatan seni sekaligus menginventarisasi karya seni yang unggul baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Seni rupa baru diawali tahun 1975 sebagai “pemberontakan” terhadap ideologi estetik, dengan meniadakan batas yang tajam antara seni lukis, patung, grafis dan fotografi, sehingga para perupa dapat menggunakan secara bebas media baru pada karya mereka. Pengaruh budaya urban juga terasa yang diperoleh melalui komunikasi bebas yang bersumber dari pertunjukan, film, TV, papan iklan, berita koran dan lain-lain. Kebebasan ekspresi dan kebebasan media bagi para perupa tanpa batas ini menghasilkan karya instalasi yang ternyata menyulitkan para pengamat. Dalam mengamati satu karya, pengamat harus banyak bertanya kepada perupa tentang karya mereka.

bienale-6Apakah gaya seni baru ini menjadi gaya yang lebih dihargai karena lebih canggih dari karya perupa masa sebelumnya ? Bagaimana dengan nilai jual karya yang berukuran besar seperti karya instalasi ? Apakah karya ini layak ditempatkan di rumah-rumah tinggal, atau dipakai sebagai eye catcher di sudut ruang publik ? Mengapa dan berdasarkan latar belakang apa para perupa membuat karya versi baru tersebut?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul lewat seminar, diskusi dan sarasehan yang digelar selama Biennale 2006, yang berlangsung dari tanggal 23 Mei sampai dengan 25 Juni 2006.

Griya Asri menampilkan beberapa karya dari maestro pelukis masa lalu (yang sudah meninggal) dan beberapa karya seniman muda yang semunya menarik untuk disimak. (Anur Mulhadiono)

 
 

Biennale Jakarta 2006
Menggairahkan Seni Rupa
@ Tampilkan Karya-Karya Tempo Dulu hingga Sekarang

Minggu, 28 Mei 2006
Setelah sempat tertunda hampir setahun, pameran lukisan bertajuk Biennale Jakarta 2006 akhirnya digelar di sejumlah galeri seni di Ibukota, 23 Mei – 25 Juni. Selain di GNI, MSRK, Galeri Cemara 6, dan Galeri Lontar, pameran juga mengambil tempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Khusus di TIM sendiri, lukisan-lukisan yang dipamerkan dipilih dari karya-karya yang memperlihatkan perkembangan baru yang cukup signifikan sejak beberapa tahun terakhir. Tekanannya adalah karya-karya seni rupa yang sengaja memperlakukan dunia media sebagai pendukungnya.
Gelar Biennale Jakarta Ke-12 diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan mengambil tema Beyond-The Limits and Its Chalengges. Pameran karya-karya seni rupa ini digelar dengan pendekatan sejarah dan media baru sekaligus sebagai bentuk eksperimen untuk lebih mendatangkan daya tarik terhadap karya-karya seni rupa Indonesia.
Ketua Pelaksana I Biennale Jakarta 2006, Chendra Effendy menjelaskan, dengan pendekatan sejarah, pengunjung dapat melacak kembali jejak-jejak panjang, seputar pencarian identitas Indonesia lengkap dengan tantangan dan perbenturannya. “Di lain pihak pengunjung juga dapat menikmati karya-karya perupa masa kini yang mengglobal tanpa beban nasionalisme,” katanya.
Lebih jauh Chendra mengatakan, pameran yang digelar di Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta, misalnya, disebut sebagai pameran “tonggak”. Di dua tempat ini, mereka yang sudah menancapkan kesenian dan kesenimanannya (seni rupa Indonesia) memajang karya-karya mereka bersamaan dengan karya-karya para perupa usia muda (di bawah 30 tahun) dengan media barunya, video art, objek, fotografi, instalasi, grafis, dan lain-lain. Karya-karya ini merupakan koleksi kurator Suwarno Wisetrotomo dan Eddy Soetriyono.
Biennale Jakarta 2006 melibatkan 179 perupa “tonggak” dan 24 Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Pameran ini menampilkan karya-karya masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa Orde Lama, masa Orde Baru, hingga di era Reformasi hasil olahan perupa-perupa masa kini.
Lukisan-lukisan yang dipamerkan, antara lain merupakan hasil buah karya pelukis Basoeki Abdullah, Affandi, S Sudjojono, Fadjar Sidik, Soenarto Pr, Widayat, Nashar, Srihadi Soedarsono, AD Pirous, Popo Iskandar, Amang Rahman, Djoko Pekik, Jim Supangkat, Hari, Heri Dono, Astari, Arahmaiani, Bunga Jeruk, dan Tintin Wulia.
Selain menampilkan karya-karya perupa Indonesia, Biennale Jakarta 2006 juga memamerkan karya-karya asing (ekspatriat). Karya-karya asing ini, antara lain berasal dari 7 negara, Jepang, Amerika Serikat, Pilipina, Jerman, Malaysia, Korea/ Finlandia, dan Italia. “Hal ini karena sejarah seni rupa modern Indonesia dalam perkembangannya tidak terlepas dari interaksi asing,” kata Chendra.
Para perupa asing yang ikut pameran dipilih dari mereka yang selama ini bekerja, tinggal, dan berkarya di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Karya-karya ekspatriat pilihan kurator Rifky Effendi ini digelar secara khusus di Galeri Cemara 6 dan Galeri Lontar. (Syarifudin)

Membaca Apin Lewat Alur Pikiran Jim

KOMPAS. Sabtu, 21 Mei 2005

Judul: Tubuh-tubuh Provokatif: Membaca Karya-karya Mochtar Apin 1990-1993
Penulis : Jim Supangkat
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2005
Tebal : 220 halaman

MASYARAKAT pencinta seni di Tanah Air kian dimanjakan dengan kehadiran berbagai buku yang memperkaya pemahaman mereka tentang dunia seni rupa Indonesia. Tak hanya monografi-monografi perupa penting, atau ulasan sebuah periode penciptaannya-yang biasanya terbit atas upaya sang seniman sendiri-galeri yang memamerkan karyanya, atau sejumlah kolektornya, melainkan juga kitab yang memaparkan perjalanan sejarah seni rupa Indonesia.

Buku-buku tersebut, seperti Perjalanan Seni Rupa Indonesia, Dari Zaman Prasejarah hingga Masa Kini (Pameran KIAS, 1990-1991); Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of Dr Oei Hong Djien (SNP Edition, 2004); dan Perjalanan Seni Lukis Indonesia, Koleksi Bentara Budaya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004). Bahkan, kini Kepustakaan Populer Gramedia, yang bisnisnya memang menerbitkan buku, melangkah lebih jauh lagi: menerbitkan kitab ulasan amat mendalam, setebal 210 halaman isi, dari seorang pengamat (Jim Supangkat) atas sebuah periode singkat (1990-1993) karya-karya seniman Mochtar Apin.

Menurut pengamat yang juga kondang sebagai kurator penyebar wacana seni rupa kontemporer itu, periode menjelang kematian sang seniman tersebut mencerminkan perubahan-perubahan radikal pada keyakinannya. Apin (1923-1994), yang dikenal sebagai perupa modernis, bahkan salah seorang perintis seni rupa modern di Indonesia, dalam pengamatan Jim, telah meninggalkan hampir semua keyakinan modernisnya, yang telah digenggamnya selama setengah abad dan memasuki pemikiran yang dekat dengan seni rupa kontemporer.

Bermula adalah pameran tunggal Apin di akhir tahun 1993, yang juga merupakan pameran pertama Cemara 6 Galeri Kafe, Jakarta Pusat. Di situ, perupa yang dikenal sebagai salah seorang empu seni lukis nude itu menggelar karya-karya mutakhirnya, yang secara radikal kembali ke lukisan-lukisan wanita telanjang sederhana, dengan pose-pose tak senonoh yang menurut pengamat seni Efix Mulyadi “mengibarkan keperkasaan seksnya”.

Pameran itu mengundang kontroversi dan hiruk-pikuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu, antara lain, mungkinkah Apin, seorang pelukis senior yang dihormati, secara tiba-tiba mengaitkan diri pada pornografi? Hal ini tidak bisa dijawab langsung oleh sang seniman. Ia meninggal dunia ketika karya-karya nude mutakhirnya masih menggantung di ruang pameran galeri kafe milik Dr Toeti Heraty Roosseno, penyair, filosof, kolektor seni rupa, yang kebetulan juga sahabat sang pelukis.

TIGA tahun setelah Apin meninggal, tepatnya 4 Desember 1996 hingga 6 Januari 1997, di galeri yang sama, Jim Supangkat (sebagai kurator) menggelar pameran bertajuk “Wanita/Refleksi”, yang menggelar lukisan, sketsa, dan karya grafis Mochtar Apin periode 1940-1993. Tujuannya: memberi latar agar lukisan nude Apin yang terkesan banal itu tidak dilihat sebagai ungkapan yang cuma mencari sensasi murahan lewat pornografi. Dari pameran ini tampak bahwa lukisan-lukisan nude tersebut memang merupakan bagian dari perjalanan panjangnya sebagai seniman.

Nah, buku yang terbit dalam dua edisi ini (edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) merupakan kelanjutan dari “advokasi” tersebut, tapi dengan studi, telaah, dan argumentasi yang jauh lebih mendalam, berbekal pengetahuan tentang perkembangan seni rupa dan pemikiran estetik, teori-teori seni rupa, di samping kedekatan dengan sang seniman.

Disampaikan dalam buku ini bahwa Apin dalam perjalanan panjang kariernya sebagai perupa merupakan seorang modernis, yang percaya bahwa ada hakikat pada realitas, dan ada realitas yang merefleksikan perkembangan zaman. Keyakinan ini mendasari kenapa ia terikat pada tema dan subject matter “wanita”. Lewat “wanita”, Apin, yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, dan dibesarkan di tengah budaya matriarkal, yakin bisa meneropong kenyataan yang lebih luas, bahkan membaca kenyataan yang menandai zaman.

Sejak awal kariernya, di tahun 1940-an, Apin sering melukiskan gambaran wanita yang memperlihatkan konservatisme, yang diikat oleh oleh aturan-aturan tradisi, seperti wanita Solo, wanita Minangkabau, wanita Bandung, dan wanita Bali. Lukisan itu dipertentangkannya dengan karya-karya yang melukiskan perempuan-perempuan Indonesia modern yang sedang menuntut ilmu. Atau, gambar perempuan yang sedang melakukan lompat tinggi (1951): dengan kostum celana sangat pendek sedang melakukan lompatan ke depan, membentangkan kaki dengan bebas dan tampak provokatif di masa itu. Di sini, dengan kacamata modernis, lewat gambar-gambar nude, Apin juga mengekspresikan dambaannya untuk melihat wanita melepaskan “baju tradisi” dan menampilkan identitas yang sebenarnya, yang lebih hakiki. Ketelanjangan di sini menjadi metafora penanggalan “baju tradisi”.

Dalam perjalanan kreatifnya, Mochtar Apin-yang pada 1946 bersama Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan Baharuddin Marasutan mendirikan organisasi Gelanggang, dengan tujuan mempromosikan modernitas, kemajuan, dan kebebasan berekspresi-tidak menempuh garis lurus, melainkan berliku-liku. Berbeda dengan kecenderungan umum perupa modernis Indonesia yang tertib di satu jalur demi menemukan “kepribadian”, Apin bisa disebut sebagai seniman yang menurut kritikus Sanento Yuliman (almarhum) menggabungkan bermacam gaya; atau bergaya ganda; atau berubah-ubah gaya. Sepanjang kariernya yang merentang hingga setengah abad itu, Apin mengerjakan lukisan realis, kubis, abstrak figuratif, abstrak geometrik, optik, pola batik, bahkan patung-grafis. Tapi dalam berbagai gaya itu, “pelukis tiga zaman” ini hampir selalu menampilkan pengalamannya menggeluti tubuh telanjang wanita. Melalui tema dan subject matter wanita, terlihat pergolakan visi bapak tiga putri ini sebagai seorang modernis. Lalu kenapa Apin sampai pada lukisan-lukisan nude 1990- 1993 yang posenya tampak banal seperti dalam majalah-majalah pornografi?

INILAH yang bolak-balik dipertanyakan dan dicoba dijawab oleh Jim Supangkat dalam ke-13 bagian tulisan dalam bukunya ini (catatan: dengan meniadakan “daftar isi”, buku ini mengganggu pembaca yang hendak merunut sistematika isi), yaitu Prolog (Makna dan Ungkapan); Perbincangan dengan Mochtar Apin; Advokasi; Penjelajahan Kompleks; Siapa Mochtar Apin; Perupa Multi-Gaya; Lukacs, Brecht, Benyamin, Leger; Mochtar Apin dan Modernisme; Mempertanyakan Modernisme; Mochtar Apin dan Seni Lukis Nude; Representasi Politik, Representasi Budaya; Tubuh-tubuh Provokatif; Epilog (Gambar Perempuan Telanjang).

Akhirnya, Jim menyimpulkan pembacaannya bahwa Mochtar Apin terganggu dengan soal perempuan di balik gambar wanita telanjang, seni lukis nude, dan soal pornografi. Bagi Apin, pandangan selama ini bahwa seni lukis nude itu untuk keindahan artistik hanyalah mitos. Nude tetap tidak lepas dari persepsi laki-laki tentang seksualitas: yang menempatkan perempuan telanjang sebagai obyek seks. Dan pornografi memang bukan untuk wanita. Bagi perempuan: pornografi sama sekali tidak menyenangkan. Mereka menolak pornografi pada dasarnya karena mereka menolak posisi perempuan yang seolah “ditakdirkan” sebagai obyek seks.

Di sini Apin menggunakan seni lukis nude-nya untuk melakukan subversi. Dia menghubungkan: antara gambaran perempuan telanjang dan wanita yang ketelanjangannya diekspose. Di sini sang model hadir tidak sebagai obyek, tapi subyek. Pose, gestur, dan mimik si model telanjang tidak dihadirkan dalam rangka pertimbangan keindahan dan ekspresi seni, tetapi sebagai bahasa tubuh sang model itu sendiri.

Tujuannya: mencari seksualitas perempuan yang tidak ada pada seni lukis nude dan industri seks serta pornografi. Dalam lukisan-lukisan nude Apin 1990-1993 tampak sang model sadar-kendati intuitif-bahwa seksualitas mereka di balik ketelanjangannya sebagai obyek seks toh punya kekuatan provokatif yang bisa meruntuhkan kekuasaan laki-laki. Dan lahirlah realitas “wanita yang nyaris tidak mempunyai insting menutup aurat”.

Isi buku ini mengajak kita melatih menelaah dengan baik, memahami dengan baik, apa makna di balik karya seni yang sekilas tampak seperti kontroversial dan banal. Sayang, bentuknya lebih seperti dokumentasi perjalanan pemikiran-pemikiran Jim dalam mencari makna di balik tubuh-tubuh provokatif lukisan Apin. Berat bagi mereka yang tak terbiasa dengan diskursus metafisika-dan ini bisa menjemukan pembaca umum. Suatu hal yang sudah disadari oleh Jim sendiri bahwa “kerumitan pemikiran” bisa membuatnya menjadi “esoterik”. Apalagi kalau kerumitan itu timbul hanya karena editingnya tidak ditangani secara piawai sehingga banyak uraian yang terasa mbulet dan kata, frase, kalimat pernyataan, yang sering muncul berulang-ulang (repetisi) dan tidak dipangkas. Juga bertaburnya kata berat, rumit, canggih, yang belum-belum sudah menakutkan pembaca. Secara verbal, buku ini mestinya memerlukan editor sekelas Joesoef Isak dalam menangani novel-novel Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer.

Buku telaah seni rupa ini juga melupakan “kekuatan bahasa visual” sebagai bentuk komunikasi dengan pembacanya. Foto-foto lukisan yang ada tidak dimanfaatkan penyusunannya untuk menampilkan pernyataan atau tesis tertentu, tapi berhenti sebagai ilustrasi halaman. Bahkan caption hanya seperti keterangan lukisan di buku-buku katalog balai lelang (minus perkiraan harga). Padahal, kan bisa, misalnya, dipakai untuk menerangkan atau menunjukkan alasan kenapa foto sebuah karya perlu dihadirkan di situ.

Malah ada sebuah lukisan yang panjang lebar diulas, ditelaah, sepanjang halaman 118, 119, hingga 120, tetapi “lukisannya itu sendiri” seperti apa tak ada faktanya. Padahal, lukisan Kasmaran di Paris (yang dalam Pameran Retrospektif 1940-1988 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berjudul “Yang” Kasmaran di Paris) ikut tergantung di Cemara 6 Galeri Kafe, dalam pameran yang dikuratori Jim Supangkat sendiri, sebagaimana telah disebutkan di muka. Yang juga sayang, tak adanya contoh karya ketika Apin menyusupkan wanita telanjang di sela-sela lukisan bercorak geometris dan minimalis, yang pernah digelar di pameran tunggalnya di Galeri Soemardja, Bandung, pada 1970-an. Akan tetapi, buku tanpa “daftar isi” ini ternyata dilengkapi dengan “daftar istilah”, “daftar tokoh”, “daftar gambar”, “indeks”, dan bagan “peristiwa Apin dalam kaitannya dengan peristiwa nasional dan dunia”, yang sangat membantu pembaca.

Eddy Soetriyono Kritikus Seni Rupa, Kurator, dan Ketua Dewan Redaksi Majalah Seni Rupa Visual Arts

Sinar Harapan. Rabu, 29 Juni 2005

Menikmati Seni Visual dalam Abstraksi Cahaya

JAKARTA – Kerja dalam karya kesenian bisa dilakukan dengan kolaborasi. Artinya, sebuah karya tak harus dilakukan secara individual. Konsepnya otomatis merupakan pergesekan yang dimanifestasikan dalam satu bentuk representasi visual.
”Walau karya itu umumnya dibuat secara privasi, tak menutup kemungkinan adanya kolaborasi,” kata kuratornya, Rifky Effendy. Kolaborasi apakah yang dimungkinkan oleh tiga seniman yang berusia tak jauh berbeda itu? Dalam sebuah zaman, yang dipaparkan oleh Rifky ”estetika dunia material era industri”, kehidupan manusia dikendalikan oleh citraan tak hanya iklan, televisi, fotografi, besi baja, beton dan banyak hal lain.
Instalasi lampu yang kini menebar cahaya bermacam ragam di sepanjang ruangan Cemara 6 Galeri adalah garapan Irawan Karseno, Vonny Ratna Indah dan Iswanto Hartono. Konsepnya tetap sama: respons dari gelombang citraaan itu.
Menempatkan dua buah atau beberapa objek di sebuah ruangan, yaitu cahaya lampu neon, pantulan kaca, dalam sebuah ruangan bercat –dengan tekstur tembok di balik cat itu– membuat kita memicingkan mata. Serupa ruangan diskotek, pendar jalan di pusat kota, adalah perbedaan dengan gelap ruangan di luar.
Mata terasa perih karena sebuah barisan ”instalasi” lampu neon yang berderet pada pinggiran dekat pintu masuk adalah warna merah. ”Coba kemari, Yang biru lebih teduh,” ujar Rifky, pada beberapa instalasi lampu neon lainnya di tengah ruangan. Tapi seteduh-teduhnya, tetap saja pendaran biru menyilaukan mata bila si pengunjung sejak tadi berjalan dari luar menuju ke dalam galeri.

Abstrak dan Medium Citraan
Inilah yang terepresentasi pada pameran bertajuk ”Abstrak” yang dicoret. Rifky, sebagai kurator, dalam pameran ini, makin tajam melihat satu objek citraan yang telah berperan di dalam representasi masyarakat kosmopolit. Sebagai kurator, dia juga menarik garis lagi tentang sebuah sejarah seni, menghubungkan kembali pandangan seni abstrak di masa lalu.
Termasuk pandangan dari pengamat seni rupa mendiang Sanento Yuliman, bahwa perkembangan seni internasional – Barat mendorong adanya kesadaran tajam soal kerja seni ”tentang bahan, proses, unsur bentuk dan penggubahannya”. Begitu pun pendapat Piet Mondrian tentang abstrak: ”seni abstrak adalah unik dan menjadi bahasa universal dalam dunia modern”.
Pernyataan yang membebaskan pengertian abstrak –mungkin juga agak ”membela” momen pameran ini– berasal dari Marry Anne Staniswezki: bagaimana mungkin pencapaian esensi visual dan representasi suatu realitas metafisik hanya dalam bentuk lukisan. Representasi keterbatasan abstraksi dalam praktik kekaryaan hanya melulu di atas kanvas. Keterbatasan yang memberikan respons PD I berupa absurditas termasuk gerakan seni Dadais.
Abstrak, atau abstraksi dengan konsep Richter dalam karyanya yang sempat berpameran di Indonesia ditampilkan. Richter yang seniman foto realis juga pengusung seni pop Jerman, bukan berupa sikap Polock yang emotif, ekspresif, otomatis dan spontan. Abstak Richter selain dingin, tanpa emosi, di ambang batas representasional dan non-representasional, ambang batas ekspresi dan logika.
Lantas, dengan budaya baru, termasuk citraan dari sebuah kondisi hiper-realitas pada masa kini, apakah abstrak, gerakan, dan konsep, berupa pameran dengan citraan lampu neon yang menebarkan berbagai cahaya, dari tiap sudut ruangan adalah suatu abstraksi yang ”paripurna”.
Seperti kegamangan pengalaman kita akan dunia abstrak (yang diwakili dengan istilah abstrak yang dicoret), dalam konteks abstraksi ”gejala visual kontemporer”. Benarkah ‘cahaya’ dari bentuk neon – yang mengarah pada benda instalasi ini – merupakan sebuah medium seni abstrak? Benda kursi dan benda neon? Jelas menjadi sebuah pertanyaan, karena wujudnya yang multimakna, bahkan di luar makna abstrak sekalipun. Atau, ketika cahaya itu tak banyak memberikan durasi, sesuatu yang mengabstraksi, kecuali keindahan warna yang bergantian ditampilkan? Apakah instalasi itu masih dirasakan jadi penghalang, atas sesuatu yang lebih abstraktif lagi – sesuatu yang selama ini kita kenal sebagai cahaya?
Benarkah ini merupakan kekuatan seni generasi seni rupa kontemporer, dalam menafsirkan abstrak, di luar semua konsep seni abstrak yang ditawarkan Ahmad Sadali, Handrio, Fajar Sidik, yang terlalu termanifestasi dalam seni lukis atau seni rupa? Seperti tajuk awal, abstrak yang dicoret adalah bisa menjadi sebuah konsep berbeda dari seni kontemporer, atau jangan-jangan masih merupakan sebuah kegamangan.
(SH/sihar ramses simatupang)

Moving stories from Tino Van Dijk’s family portraits
by Farah Wardhani

Source: The Jakarta Post, Thursday, October 16, 2003

Between 1973 and 1983, a child exodus occurred in Indonesia, whereby a great number of Indonesian babies and children were taken by adoptive parents from foreign countries, mostly the Netherlands. These children were given away by their biological parents for many reasons, from escaping social and cultural restrictions for having an illegitimate child, to purely economic motives.

This phenomenon became such a serious problem, resembling the export of Indonesian workers to foreign countries, that the government eventually stopped it officially in 1983. That little piece of this country’s history then slowly faded from memory, concealing questions on what then happened to the children afterwards, and what sort of life they might have led.

Valentijn (Tino) Van Dijk, alias Tino Djumini, was one of the given-away children. He was adopted in 1978 by a Dutch family that was first shown a photograph of three-year-old Tino with the words “Nice Boy” written on the back. From then on, Tino grew up to become a part of his Dutch family as well as a Dutch citizen.

He undertook studies in art and currently works as a freelance photographer in the Netherlands. He then returned to Indonesia to trace his biological mother, whom he eventually found and met.

From such beginnings we can already expect that Tino Van Dijk has a compelling story in store for us. We can also see an intriguing path that shows how photos have become a significant element in his biography — the way the major change in his life started early on with a simple photograph and then how he became a photographer when he grew up.

Inevitably, photography is what he has chosen as the medium to tell us his story. His exhibition is at Galeri Soemardja at the Bandung Institute of Technology (ITB), Bandung. The exhibition presents a compilation of black-and-white family portraits taken in Indonesia and the Netherlands.

Entitled Nice Boy, like that picture of him back in 1978 and just as his exhibition curator, Rifky Effendy, says in the catalog, it was like presenting “photography of fate.”

This can be seen vividly in two photos that are displayed alongside each other, which portray Van Dijk with each of his two families, one with his middle-class Dutch adoptive parents in the Netherlands, the other with his biological mother’s humble family in Indonesia.

The two pictures reflect Van Dijk’s double unbelonging, his displacement in both of his families, how he differs physically and racially from his Dutch parents, and how the aura that emanates from his stare, character and mannerisms that resulted from his Dutch upbringing mark him out from his Indonesian family and its surroundings.

Furthermore, Van Dijk also invites us to join him in engaging with the stories of the others, in portrayals of various Indonesian and Dutch families that he met through personal or coincidental encounters, and also by research.

The Indonesian series presents portraits of “ordinary” Indonesian families from a broad range of social classes. The Dutch series presents various middle-class Dutch families with their adopted children from Indonesia, with an exception of one that presents a young married couple with their son, in which the husband was an adopted child from Colombia and the wife Indonesian-born, who had moved to the Netherlands.

All the photographs are captured in the utmost simplicity, portraying the families in common family portrait poses, mostly in their homes, accompanied by short texts explaining the background of each.

Yet, it is intriguing to see how the Indonesian and Dutch scenes are juxtaposed one with another, the way they display images of “proper” families and other versions of families with one or more “displaced” members within them, the ones that stand out for being “the others.”

They make us look back to our own family portraits, how they identify ourselves, signifying our sense of shelter, a place in this world for us to claim and to return to. In another way, it is also an institution in itself.

Van Dijk sorts out his series of images like throwing cards on the table for the audience, giving them the space to go beyond the smiling faces on the pictures, excavating the stories beneath as well as exploring the possibilities that might have happened along the way. Being one of the subjects of his own work, his personal engagement intensifies the depth of all the narrations he has collected and encapsulated, both visually, in his photography, and also textually in his writing in the exhibition catalog, which could serve as an autonomous narrative project in itself.

The exhibition as a whole is thought-provoking, stimulating us to rethink our concepts of family in relation to various aspects such as norms, sociocultural constructions, kinship, legacy, history and memory. Moreover, it also can lead us to think how we perceive ourselves within this increasingly globalized world, which is endlessly transforming, along with values and notions of identity itself.

Nice Boy, exhibition of photos by Valentijn (Tino) Van Dijk at Galeri Soemardja ITB, Jl. Ganesha No. 10, Bandung, until Oct. 20, 2003.

Yang Penting Tamu Merasa Terhibur

KOMPAS. Minggu, 26 Januari 2003

 
kompas/agus susanto

MENGELOLA sebuah rumah yang dibuka menjadi ruang publik seperti galeri atau museum, memang tidak murah. Ruang publik itu harus selalu tampil bagus dan menarik, agar orang mau datang dan kembali ke sana.Lihat saja Galeri Cemara 6 yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto 9-11, Jakarta Pusat. Galeri itu, selain memerlukan lahan yang luas untuk memamerkan benda-benda pameran, galeri juga membutuhkan banyak lampu sorot, benda-benda unik, dan karyawan yang merawat dan mengelola.

“Biaya yang dibutuhkan memang sangat besar. Untuk galeri ini saja, rata-rata setiap bulan saya membutuhkan Rp 20 juta-Rp 30 juta hanya untuk biaya rutin. Belum termasuk biaya jika di sini ada kegiatan,” kata pemilik Galeri Cemara 6, Prof Dr Toeti Heraty.

Biaya rutin sehari-hari didapatkan dari orang-orang yang makan di kafe, orang yang menginap di sini, atau dari sewa tempat pergelaran. Sedangkan untuk memperluas galeri dan rumahnya hingga mencapai kurang lebih 1.500 meter persegi, dan membangunnya menjadi galeri yang menyatu dengan rumah, Toeti mengaku harus meminjam modal di bank.

Di Galeri Cemara 6 ini, para pengunjung memang bisa menikmati makanan dan minuman, selain menikmati benda-benda pameran. Bahkan, jika memang membutuhkan tempat tinggal, Galeri Cemara 6 menyediakan tiga buah kamar tidur untuk menginap.

“Biayanya tidak mahal, hanya Rp 200.000 per malam sudah termasuk makan pagi. Dalam kondisi tertentu, kadang-kadang saya memberikan diskon 10 persen,” kata Toeti.

Kondisi tertentu itu misalnya, tamu itu akan menginap selama satu bulan lebih. Misalnya untuk tiga bulan mendatang, Toeti mengatakan ketiga kamar itu sudah penuh terisi. “Biasanya yang menginap adalah seniman yang menggelar karyanya di Galeri Cemara 6 atau peneliti dari luar negeri, atau teman-teman dari luar Jakarta,” aku Toeti.

Untuk kafe, Toeti mengaku cukup ramai. “Terutama jika ada acara di sini. Kalau tidak ada acara, maka ramai biasanya pada sore dan malam hari, saat orang singgah menghindari kemacetan lalu lintas,” kata Toeti.

Menu yang disediakan cukup bervariasi, yakni makanan gaya Eropa dan Indonesia. Harganya relatif murah. Misalnya, harga steak hanya Rp 40.000-an, sementara untuk menu yang sama di restoran atau hotel sudah mencapai harga Rp 70.000.

ADANYA galeri dan kafe di rumahnya, menurut Toeti sangat membantu dirinya. “Saya paling senang jika di rumah banyak orang, tetapi saya tidak mau direpotkan. Makanya, saya buka kafe sehingga jika ada tamu yang mau makan dan minum tinggal memesan saja dari kafe,” kata Toeti.

Sementara bagi Ardiyanto Pranata (58), pengusaha batik, desainer, pelukis, dan pecinta botani di Yogyakarta ini mengatakan, sangat membantunya dalam efisiensi waktu. “Kalau rumah dan pabrik jadi satu, sore hari saya bisa langsung mencek produksi batik hari itu. Kalau ada yang kurang bagus, segara saya minta perbaiki,” kata pemilik Ardiyanto Batik di Jalan Magelang KM 5,8 Yogyakarta.

Namun, walau bisa menghemat waktu, mengelola rumah besar dengan ruang publiknya ternyata diakui Ardiyanto memakan biaya cukup besar. “Itu yang harus hati-hati. Tempat saya ini bisa menampung tamu sekitar 300 orang di joglo, galeri, dan halaman joglo. Namun, biaya rutin untuk tukang kebun, satpam, listrik, telepon, air, biayanya memang sangat besar,” kata Ardiyanto yang enggan menyebut angka.

Untuk menutup biaya rutin itu, Ardiyanto juga menetapkan biaya perjamuan bagi tamu-tamu yang datang. Untuk tamu orang asing, dikenakan biaya 13 dollar AS per orang. Sedangkan untuk perjamuan biasa, biayanya Rp 50.000 per orang dengan jumlah minimal 50 orang. “Tamu 20 orang juga bisa, tetapi dengan tarif Rp 75.000 per orang,” kata pria yang tempatnya sering dipakai untuk seminar, makan malam, pertunjukan musik, pameran, pembacaan puisi, pentas teater dan kesenian tradisional ini.

***

TIDAK semua pemilik ruang publik di rumahnya bermaksud mendapatkan kekayaan dari ruang publik itu. Seperti Toeti dan Ardiyanto pun tidak bermaksud mencari untung dari ruang publik di rumahnya.

“Saya tidak mencari untung dalam mengelola galeri ini. Jika saya mau untung, maka seharusnya saya membuat rumah sakit atau restoran. Betul kan, setiap hari pasti ada orang yang sakit dan butuh makan. Buat saya, semua uang yang masuk hanya agar galeri ini bisa bertahan,” tutur Toeti.

Bertahan, maksud Toeti, agar masih ada tempat seniman untuk berekspresi. “Tidak banyak tempat di Jakarta yang bisa dijadikan tempat para seniman berkumpul. Di sini, selain mereka bisa menggelar karyanya, mereka juga bisa berdiskusi dengan santai dan tenang,” ujar Guru Besar Filsafat Universitas Indonesia ini.

Lagi pula, saat ini dalam mengelola galeri dan kafe, Toeti dibantu 14 orang karyawan yang harus digaji setiap bulannya. “Pokoknya prinsip saya adalah nonprofit, tetapi harus bisa bertahan. Kalau bulan ini ada kelebihan uang, maka uangnya disimpan untuk bulan depan yang mungkin bisa paceklik. Bisa saja saya memakai uang pribadi untuk menutup biaya rutin galeri,” kata Toeti yang mengaku sumber pendapatannya berasal dari perusahaan-perusahaan keluarga yang dimilikinya.

Ardiyanto juga mengaku ruang publiknya lebih banyak fungsi sosial daripada aspek bisnisnya. “Saya tidak bisa menggantungkan pemasukan dari situ. Saya menggantungkan kehidupan saya dari usaha garmen, batik, kerajinan yang saya pajang di tiga show room milik saya,” ujar Ardiyanto.

Namun, walau tidak menggantungkan hidup dari ruang publik, baik Toeti maupun Ardiyanto tetap melayani tamu-tamu dengan baik. Toeti mengaku selalu ikut bergabung jika ada acara-acara di galerinya. Jika ada waktu longgar, dia ikut mengobrol cukup lama dengan para tamu. Para tamu juga bisa dengan bebas menemui Toeti di rumahnya.

Sedangkan Ardiyanto mengaku tidak pernah menyia-nyiakan tamu yang berbelanja di tempatnya. “Saya biasa menggunakan kode. Kalau saya bilang ke asisten KR, berarti harus segera disediakan minuman atau camilan dengan cangkir yang bagus,” ujar Ardiyanto.

Kode KR artinya keratonan. “KR itu singkatan dari keratonan. Artinya, tolong hidangkan minuman dengan perangkat cangkir atau gelas yang bagus, a la keraton. Gitu lho, Mas,” katanya sambil tertawa.

***

HARRY Darsono juga tidak mau menjadikan museumnya sebagai tempat komersial. Meskipun terbuka untuk umum, dia mengharapkan tamu yang akan berkunjung membuat perjanjian dulu. Menurut Manajer Harry Darsono Couture & Museum Emil Hari Wijaya, biaya hanya dikenakan untuk para tamu berkebangsaan asing.

“Sekitar Rp 50.000-Rp 100.000 per orang, tetapi itu dikembalikan lagi kepada mereka karena kami menyediakan minuman teh, kopi, dan kue-kue kecil. Bukan untuk mendapat keuntungan dari situ. Untuk anak-anak sekolah yang mau datang ke sini, biasanya kami atur supaya yang masuk 20 anak, bergantian,” kata Emil.

Anak-anak yang menunggu di luar, diajak melihat peternakan ulat sutera mini. “Untuk memperlihatkan dari mana asalnya benang sutera,” tutur Harry.

Sementara itu, Leksmono Santoso yang memiliki Roemah Djawa menjadikan rumah kudus yang menyimpan berbagai benda seni dari berbagai tempat di Indonesia ini sebagai semacam ruang pajang profesinya sebagai penyelenggara perjalanan wisata ke daerah terpencil.

“Kami membiayai rumah ini dari gaji saya sebagai pengajar di Jakarta International School dan Leks juga mempunyai penghasilan dari mengantar tamu atau memberi kuliah di JIS,” tutur Linda Hahn, istri Leksmono, yang kelahiran Nebraska, Amerika Serikat.

Pada hari Sabtu dan Minggu Roemah Djawa yang terletak di Jl Lebak Bulus Raya I No 85 Z, Jakarta Selatan, ini terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Sedangkan pada hari-hari lain harus dengan perjanjian karena Linda mengajar, sementara Leksmono boleh jadi sedang mengantar tamunya.

Bila membutuhkan informasi tentang budaya-budaya berbagai suku dan juga tentang tekstil Indonesia, begitu Linda mengatakan, tidak dipungut bayaran. Di sana tersedia video yang bisa ditonton.

Untuk membantu membiayai galeri ini, Roemah Djawa menjual beberapa benda-benda seni yang dipamerkan. “Tetapi, yang dijual oleh Leks hanyalah benda-benda yang dia yakin masih dibuat oleh masyarakat setempat. Benda-benda yang sudah tidak dibuat lagi, dia simpan untuk koleksi sendiri,” tutur Linda.

Lain lagi dengan Harry Darsono. Dia sengaja selalu mengubah isi museumnya setiap enam bulan untuk mempertahankan supaya museumnya tetap menarik. Dia bahkan mengubah tampilan fisik museumnya seperti memasang wall cover dari sutera yang desain tekstilnya dia buat sendiri. Sekarang dia sedang merenovasi bagian dalam kubah rumah bergaya Barok-nya dengan memasang ukiran yang mengikuti mahkota Sultan Banten.

Bila tamu-tamu menghendaki, Museum Harry Darsono juga bisa memanggilkan seorang pemain piano untuk menghibur mereka. Atau bila Harry sedang tidak sibuk, dia tidak segan-segan memainkan piano untuk tamu-tamunya. “Supaya museum itu selalu dikunjungi dan tetap menarik adalah museum itu harus menjadi entertainment. Kalau tidak, orang tidak mau datang lagi,” katanya. Dan, untuk yang urusan menghibur, Harry adalah jagonya. Dia akan duduk di depan piano dan memencet tuts-tuts piano, dan tamu-tamu pun merasa terhibur sekaligus bertambah pengetahuannya. (HRD/ARN/NMP)

Poetry reading at Galeri Cemara 6

City News – March 10, 2003

JAKARTA: French poets and their local counterparts will read their works on Wednesday night here at Galeri Cemara 6, Jl. HOS Cokroaminoto 9-11, Central Jakarta.

Organized by the Centre Culturel Fran‡ais in cooperation with the gallery, the event will feature contemporary poets Pascal Riou and Christian Doumet who will come directly from France. They will meet well-known Indonesian poets Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Joko Pinurbo, Dorothea Rosa Herliany, Embun Kenyowati Ekosiwi, Eka Budianta and Toety Heraty Noerhadi.

Poetry will be read both in French and Bahasa Indonesia.

The annual event will be held to celebrate the Printemps des poŠtes, or the month of poetry to mark the beginning of spring in France.

As part of the celebration, CCF will also have a poster exhibition on poet-painter Henri Michaux, who dedicated 60 years to the world of art.–JP

Pameran Tubuh Manusia sampai Batu

Kompas. Sabtu, 31 Mei 2003

APAKAH seorang Cina sekarang sudah boleh menjadi seorang Cina yang sekaligus Indonesia? Politik pembedaan oleh negara selama puluhan tahun telah meninggalkan jejak teramat dalam yang membuat warga keturunan Cina “masih belum juga sepenuhnya kita”.

Gubahan dwimatra ini menjadi salah satu daya tarik pameran seni rupa bertajuk “Imagined Bodies (Tubuh-tubuh Terbayang)” yang berlangsung di Cemara 6 Gallery, Jakarta, tanggal 8-31 Mei 2003. Pameran ini menyajikan patung, lukisan atau foto, maupun karya-karya dengan media campur garapan 13 seniman.

Daya tarik lainnya tentu saja adalah kesertaan Mochtar Apin (1923-1994). Ia sempat bergabung dengan Persagi (pada tahun 1941) yang menjadi salah satu tonggak perjalanan seni rupa Indonesia. Berkaca (1993) yang tampil di dalam pameran ini menggambarkan tubuh perempuan memandang ke arah cermin yang ia pegang di tangan kiri.

S>small 2small 0< perempuan Apin ini? Ia molek dengan buah dada penuh, menggambarkan kemudaan dan juga kesuburan, yang memberi pesan tentang sebuah tubuh ideal. Itulah tubuh yang menjanjikan pengalaman personal, namun sekaligus menumpuk ingatan-ingatan kolektif yang ditanamkan oleh serbuan produk-produk perawatan kecantikan, dalam keniscayaan hidup sehari-hari perempuan pelahap sinetron, telenovela, dan gosip selebriti di televisi.

Perempuan Apin tersebut bisa jadi gambaran dari kebanyakan perempuan di dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan Indonesia sekarang ini. Di dalam hal ini, karya Betty Huwae menjadi lebih spesifik dengan menunjuk pada kompleksitas permasalahan perempuan. Karyanya yang bertajuk Bidadari Kupu-kupu (2002), sebuah lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 120 cm x 100 cm, melukiskan seorang perempuan dengan sepasang sayap mirip kupu-kupu.

Imbuhan sayap pada tubuh tak ubahnya impian seseorang untuk menjadi makhluk lain yang lebih perkasa, lebih mampu mengatasi persoalan. Ia tetaplah perempuan, yang dekat dengan keindahan dan kelembutan, namun rapuh seperti kupu.

Sosok pada karya para seniman di muka itu jelas teraba, namun figur pada lukisan-lukisan akrilik Agus Djatnika kebanyakan kabur atau tersamar seperti pada sosok tunggal dalam Kesendirian (2002). Aktor-aktornya mungkin malah bertumpuk seperti pada Obrolan Senin Pagi (2002). Tubuh-tubuh itu transparan, dengan berbagai gestur yang saling bersilang atau sebagian bertumpuk. Kalau tubuh-tubuh itu adalah simpul dari bermacam persoalan, sosok yang terus diburu masalah dari waktu ke waktu, maka penggambaran Djatnika bisa dibaca sebagai caranya merunut pengalaman manusia sepanjang peradabannya.

Dengan cara pemaparan yang berbeda, Antonius Kho-yang bekerja bersama Aryk-menawarkan belitan masalah sepanjang hidup. Masalah itu begitu ruwet, merentang, menusuk, melilit, melingkar, mendadak meliuk tajam, seperti perjalanan garis-garisnya yang kemudian membuat bentukan seperti mata, hidung, mulut pada wajah entah siapa di kanvas. Garis-garis itu seperti mendadak muncul, tak pernah jelas dari mana ujung pangkalnya, tak beda dari teka-teki hidup.

Kho yang hidup paruh waktu di Jerman dan Bali, bersama Aryk juga menyuguhkan patung-patung kayu. Karya mereka berjudul Cahaya Keheningan (2002), misalnya, menarik oleh caranya memanfaatkan bahan bongkahan pokok kayu lengkap dengan urat-uratnya yang tampak menonjol menjadi elemen rupa. Ia mengontrolnya, lebih daripada mengikuti alur urat dan bentuk bahan serta mengembangkannya seperti dilakukan oleh Tjokot dan sejumlah pematung berikutnya.

Seperti juga tampil pada pameran-pameran sebelumnya di Jakarta, kita bisa melihat perbedaan substansial antara karya dwimatra dan trimatra Kho. Ia menemukan metafor dan cara ungkap yang unik untuk memberi kesan tentang, misalnya, misteri hidup maupun keserbatidakpastian, namun ia terjebak pada menggarap atau mengutamakan bentuk ketika menghadapi patung.

Cara unik lain di dalam menangani “tubuh” diperlihatkan oleh sejumlah seniman yang menyertakan karya mereka di dalam pameran ini. Sebutlah Hendro Tjokro Dipo MS dengan patung-patung perunggunya atau Lamat dengan beberapa lukisan cat minyak di atas kanvas.

L>small 2small 0<, lewat karyanya, Soul I (2003), menggambarkan semacam wortel yang terbelah. Itulah sebentuk tubuh (perempuan) yang dibebat dengan lilitan kawat berduri. Sungguh gaya ungkap yang menyayat. Tubuh perempuan tampaknya sebuah wilayah yang mestinya sangat pribadi. Namun, kawat berduri yang menjaganya ternyata sekaligus juga mengurungnya.

Ia menampilkan suasana hangat dari tubuh-tubuh yang duduk berdekatan, bahkan ia gambarkan saling bersambungan di dalam The Family (2003). Melihat latarnya-ia perempuan kelahiran Vienna, Austria-tampaknya ia mendapati kedamaian dengan tinggal dan berumah tangga di Indonesia.

George Timorason menonjolkan efek gerak atau kecepatan lewat patungnya, My Loneliness (2002). Sosok manusia berbungkus anyaman logam yang digiring oleh judulnya ini menyoal pada sisi manusia di tengah peradaban baru (kesan logam) yang serba cepat: tubuh seperti apa yang layak hidup di tengah berbagai perubahan yang begitu cepat? Pasti bukan tubuh para penikmat kehidupan tata tentrem kerta-raharja, namun barangkali manusia setengah komputer seperti di zaman (film-film) Matrix atau Matrix Reloaded.

Tengok pula Yudhi Soerjoatmodjo yang pamerannya memancing perdebatan di kalangan peseni foto. Ia menyuguhkan sejumlah foto (The Pillow Book, 2002-2003) yang menampilkan seprai, kasur, bantal, bekas tidur orang. “Jejak tubuh semalam” yang sehari-hari itu konon pengalaman penting tubuh manusia. Dengan medium foto pula (The Nice Boy, 2002-2003), Valentijn Gabrielvn Dijk menyoal perbedaan fisik para manusia yang berbeda asal.

Peserta termuda (lahir 1980) pameran ini, Saraswati Dewi Djumaryo, tentu bisa dicurigai sebagai bagian dari “generasi MTV”. Seperti apa pula ia menangani tubuh? Ia menyuguhkan See How Much I Love You (2003), berupa susunan abjad yang membentuk nama-nama orang pada lembaran akrilik. Nama adalah salah satu identitas manusia, pengusung beban tubuh.

Yang paling unik adalah Nugroho Anggoro. Ia menggambar batu di dalam sejumlah kanvasnya. Apakah tubuh manusia termanifestasi lewat batu-batu? Menurut kurator Rifky Effendy, itulah tubuh yang menyerahkan eksistensi pada sesuatu yang “maha tak tampak”, yang terkait dengan pencarian spiritual.

Besar kemungkinan penonton awam sulit menerima penjelasan seperti itu, namun karya-karyanya tentu sesuai dengan kebutuhan pameran seni rupa kontemporer ini. (efix)

Personal experiences emerge in imagined bodies

Jakarta Post. Features – May 25, 2003

Carla Bianpoen, Contributor, Jakarta

At a time when the world is saturated with visual images, Cemara-6 gallery here presents an exhibition on the theme of imagined bodies.

Curator Rifky Effendy reveals that the theme was inspired on Benedict Anderson’s famous book, Imagined Communities, in which it is suggested that the nation is an imagined community, to be distinguished from other communities by the way in which it is imagined.

Of course imagining isn’t without a basis: As some scholars have said, it will be affected by language, images and social practices constituting a dimension of the cultural heritage that may be hidden or unconscious, but present anyway.

One must also not forget the impact of the invention of the camera, print, TV and other advanced technologies that have caused the scope of imagining to broaden in the course of time.

The imagining of 12 artists of various age groups in the Cemara exhibition testifies to a manifold of impact that has affected their ways of seeing.

Mochtar Apin (1923-1994), who lived at a time when the European model dominated the world of art, epitomizes the artist who imagined bodies between the foreign and the local through the eye of the photographer, and the print, that has helped him construct his own ideal of the (female) body, mostly nudes.

For some, the mixed media paintings of Hendro Tjokro Dipo, 55, which have the allure of the traditional may intrigue by its mystique, while his bronze sculptures with the out-of-proportion long legs are esthetically interesting and appealing. A touch of the primitive is found in the mixed media on wood works created by Antonious Kho, 45, and Aryk or Sri Haryani, 42, while sculptures of George Timorason, 32, may remind of styles introduced by such renowned artists as Nyoman Nuarta and others. The imagining may be different, as does the technique used.

As 43-year-old Agus Djatnika unfolds his imagined bodies in a manner that appears transparent but requires close observation to distinguish their specific gestures, he draws the spectator into his way of imagining, which makes his acrylics on canvas particularly interesting.

Nugroho Anggoro, or Nungki, 46, leads us to the “hidden” worlds of the spiritual through his mixed media on canvas, in an arrangement of 12 panels that lyrically present his contemplations on the stone and forms of mother earth.

Perhaps the most remarkable in this exhibition of imagined bodies, are the bodies emerging not from the imagining, but from the depth of the artist’s soul that is marked by personal experiences.

Lamat, 30, for instance, presents canvases filled with both realist and semi realist figures that tremble with pain. Figures crouched down like in Transitory Time or Modern Pain or a figure becoming one with a fence like in Strings, or a yellow body like in Soul I, they are “adorned” with stitches or wrapped with something that looks like garbled wire. And even if the colors are yellow, or yellowish red, the dripping of the paint denotes a pungent agony.

“Every time something happens, the wound that was, opens,” explains Lamat. But apparently, there are also good moments, as we can see in Reaching Out (two panels) in which each panel has a person reaching out a hand to the other, and in the semi abstract Angel. All her works are oil paintings.

Like Lamat’s the works of Betty Huwae, 40, are also in oil paintings, but it is the somber, almost oppressive colors and the sad melancholic expressions of the face that tell the personal story of a woman. Lover says one title featuring a young woman, but the yellow color is that of an overripe, almost decayed fruit. Bidadari Kupu Kupu (120 x 100), for instance has a naked upper body in which the busts stand out in a lighter color, and wings serve as the background, while the folds of a cloth cover the lower body. A dark hue of red dominates the picture, but the face is without expression.

“There are times in life that a woman comes to be pessimistic,” says the artist. Her life is steered by the will of others, leaving an emptiness deep within, just like the butterfly that used to be admired for its beauty, but today what is left of that all. Walking Alone shows a figure holding an umbrella, with a suitcase waiting as if she was on the point of leaving. There are titles of more optimistic nature, like Openminded, Permata Hati, Chatting and Hope For, but even the baby has a sad face, and the colors remain somber, but are nevertheless appealing.

Anna Zuchriana, 37, as usual highlights discrimination of the ethnic Chinese, as she as experienced it. But this time she also adds the issue of gender discrimination in the experience of Inul Daratista, the popular dangdut star of the drilling dance.

It takes a thinker like renowned photographer Yudi Soerjoatmodjo, 39, to pay attention to the little things that most people take for granted. For Yudi, the bed is the place where his most intimate moments are spent, from a haven of rest, a refuge for tempering frustrations, to a place of indulging in dreams, and, of course, also to make love. How does his bed look like after he has been in it in his various “moods”? The Pillow Book, 2002-2003 shows six pictures with creases and crumples, including one with a woman’s face.

In black and white photographs of families and adopted children, Valentijn Gabriel van Dijk (born as Tino Djumini in 1975), explores how various differences in the physical body give rise to exclusion.

Saraswati Dewi Djumario, 23, the youngest, is also the most active exploring new possibilities. Without any inherited burden, her bright and joyful works of imagined bodies radiate happiness.

A screen made of acrylic sheet and using stickers, See how much I love you shows silhouettes of her parents surrounded by letters forming the names of their children. Imagining her own body in several dance, she creates dancing figures, all using acrylic sheet, while experiments with abstract lines suggest this is not the end of her explorations.

The exhibition must be commended for highlighting the issue of imagining. However, the introduction in the catalog, may be too heavy for the general public.

Imagined Bodies; May 8 to May 31, 2003; Cemara-6 Galeri, Jl. HOS Cokroaminoto 9-11, Menteng, Central; Jakarta; Phone 324 505, 3911 823, 3918 761

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.