prilla tania
TANAH di DASAR SAMUDERA

Catatan Kuratorial

AMBIVALENSI dalam karya Prilla Tania

Prilla Tania mungkin termasuk perupa muda yang bergelut dengan karya-karya yang lebih cenderung menekankan pada konsepsi. Oleh karena itu, karya-karya Prilla menggunakan banyak idiom dan medium; mulai dari patung dan obyek, performance, fotografi, video, dan lainnya. Dalam berkarya ia kerap melakukan penjelajahan bahan yang tak biasa digunakan sebagai medium dalam praktik seni rupa mainstream, seperti kertas, kain, bahkan bahan –bahan yang biasa digunakan dalam kegiatan domestik rumah tangga, seperti gula dan lain sebagainya. Ini seolah membuktikan, bahwa medium apapun ia bisa gali potensinya untuk menyampaikan suatu gagasan atau mendekati suatu persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sekitarnya. Watak kekaryaannya yang selalu dibungkus kesederhanaan tampilan, tenang tak melonjak-lonjak, tak menyerang mata serta –merta, cenderung datar bisa dikatakan menjadi kekhasannya. Namun dari sana muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dan akhirnya menuju pada suatu hal yang begitu penting.

Kali ini dalam rangkaian karya – karya dipameran tunggalnya berjudul: TANAH di DASAR SAMUDERA, Prilla menyajikan potongan kain – kain berwarna –warni yang membentuk fragmen-fragmen imaji pemandangan berwatak naif atau mirip kartun. Serta video animasi yang dibuat sangat sederhana melalui perangkat lunak CorelDraw. Serial karya ini menyentuh persoalan mengenai kehidupan (budaya) manusia secara umum dengan cara berbeda. Muncul fragmen-fragmen peristiwa sesaat di tengah pemandangan lapangan Golf, manusia di bulan, kapal selam di bawah permukaan laut, kapal perang di permukaannya, ikan paus, dan lain sebagainya. Dengan gerakan – gerakan animasi yang singkat, kita bisa menyaksikan seseorang ditengah lapangan golf yang sedang memegang bendera yang tersambar bola golf, atau sesorang yang sedang menancapkan bendera di Bulan. Adegan – adegan ini menggambarkan rangkaian peristiwa yang biasa hingga yang bersejarah dalam peradaban manusia.

Prilla tertarik dengan persoalan tentang tanah sebagai habitat kehidupan manusia yang kemudian berkembang menjadi penguasaan suatu wilayah. Hal ini merupakan insting primitif dari budaya manusia, baik dari manusia pra-sejarah hingga yang modern. Perpindahan-perpindahan tempat, pelebaran – pelebaran teritori sekelompok manusia, suku, bangsa, hingga seluruh umat. Dalam sejarah manusia, perluasan-perluasan teritori ini kemudian seringkali mendatangkan pertikaian-pertikaian, penjajahan, penghapusan sebuah suku dan bangsa, peperangan hingga penemuan-penemuan teknologi untuk menjelajahi ‘tanah’ yang belum terjamah. Namun setiap upaya itu pun selalu harus mengorbankan sesuatu yang sudah ada disana sebelumnya, termasuk isu-isu lingkungan, sosial, budaya bahkan politik. Alih-alih, kekaryaan Prilla membincangkan subyek yang sangat universal namun juga bisa dilihat dari struktur pengalaman secara personal dan kontekstual. Seperti apa yang terjadi di kota Bandung dimana Prilla lahir, dibesarkan hingga saat ini.

Watak kekaryaan Prilla memang unik, ia menyebrangi wilayah seni, craft maupun peristiwa keseharian dalam sebuah payung subyek persoalan. Pendekatan ini seperti juga perilaku kekaryaan perupa Inggris asal Palestina, Mona Hatoum. Karya-karyanya berakar dari hal-hal tentang ke-tiada-an tempat (displacment), ke-tak menentu-an atau ambivalen, dan struktur kekuasaan, pokok-pokok soal yang dialamatkan melalui penggunaan yang akrab, benda-benda domestik yang ditransformasikan kedalam keterasingan dan sesuatu yang tak menentu. Praktik seni Hatoum juga berhubungan dengan isu-isu yang terkait dengan proses dan dengan beragam pertanyaan tentang nilai fisik yang menyatu dari karya juga hubungannya dengan ketertarikan formal terhadap ruang dan materi.

Prilla dengan karya kain perca- nya mengingatkan kita pada watak kegiatan domestik rumah-tangga seperti pekerjaan menyulam, menjahit, sebagai perilaku pekerjaan yang jauh dari tendensi praktik seni kontemporer arus utama. Bentuk bendera, membuat simbol – simbol umum dari keseharian. Bendera yang banyak digunakan, merupakan tanda dimana batas teritori menjadi tegas dan memberikan makna adanya perbedaan antara wilayah tanah, ideologi, negara; yang satu dan lainnya. Oleh karenanya, bagi Prilla medium ekspresi menjadi tak terbatas, sejauh itu medium diakrabi dan bisa memberikan nilai-nilai yang sesuai dengan gagasan awal. Seperti yang pernah dikemukakan Roland Barthes, ahli semiotik Perancis, bahwa semua yang ada disekitar kita menjadi sebuah rangkaian tanda –tanda, yang mengandung dan terkait dengan kepentingan atau terjalin sebuah struktur kekuasaan. Tergantung dimana posisi kita memandangnya. Prilla menghampiri tiap elemen kehidupan dengan sudut pandang yang mendua atau ambivalen. Mengamati strukturnya sebagai artikulasi keakraban fisikal dan kemudian menjadikan wilayah permainan makna yang mengasyikan dalam penjelajahan artistik.

Perilaku serta kekaryaan Prilla seolah mengartikulasikan secara lanjut dari pemikiran – pemikiran anti-elitis Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), bahkan melampaui konstruksi pemikiran seni feminisme. Keambivalenan watak (antara seni, kerajinan dan kegiatan domestik lainnya) pada karya – karya Prilla sesungguhnya memberikan gambaran praktik seni rupa kontemporer pada pemahaman artistik yang dilandasi seni rupa konseptual. Alih-alih memahami medium sebagai wahana untuk berkomunikasi; berinteraksi secara nilai maupun fisik dengan pemirsanya. Di belahan Asia, praktik seni rupa seperti ini kemudian dilakukan oleh para perupa seperti Ai Weiwei (China), Amanda Heng (Singapura), Shilpa Gupta ( India) dan lainnya.***

(R.E)
Bio

Prilla Tania
place, date of birth : Bandung, 1st April 1979

EDUCATION
graduated from Bandung Institute of Technology(ITB), Art and Design Faculty , Fine Art Department, Sculpture Studio in July 2001.

ORGANIZATION
VideoBabes : founder and member.

WORKING EXPERIENCE
February 2006 working as design and creative assistant in Independent Network Indonesia, Bandung
August, 2002 working as an artist assistant, Carolyn Black from UK for an artist in residence program (UNESCO, KELOLA, Selasar Sunaryo Art Space) at Selasar Sunaryo Art Space for 3 months
December 2001 working as a script in telecinema production titled “Strawberry” produced by Indigo Production House
GROUP EXHIBITION
August 2007 “Met de leica in de hand komt men door het ganse land”, single channel video . The Past –The Forgotten Time exhibition at Erasmushuis, Jakarta
July 2007 “cleanup”, single channel video work took part on OK!VIDEO.MILITA International Video Festival in Jakarta
April 2007 “Met de leica in de hand komt men door het ganse land”, single channel video . The Past –The Forgotten Time exhibition at Cemeti Art House, Yogyakarta
February-March 2007 “Met de leica in de hand komt men door het ganse land”, single channel video . The Past –The Forgotten Time exhibition at The Netherlands Institute of War Documenation(NIOD), Amsterdam.
January 2007 “Met de leica in de hand komt men door het ganse land”, single channel video . The Past –The Forgotten Time exhibition at Artoteek Den Haag.
December 2006 “1-5”, acrylic on canvas, TOI MOI Jakarta.
September 2006 “façade 14”, Launching and Open House 12th Button, Bandung.
.“History, fact or fiction”, Masa Lalu Masa Lupa, Cemeti Art House, Yogyakarta
May-June 2006 Jakarta Bienalle, Beyond at Cipta II Gallery (Taman Ismail Marzuki). camera installation “untitled” 2006, curated by Rizki Ahmad Zaelani.
April-May 2006 Bandung-Singapore displacement project, Recurring Spaces. Workshop and sreening, 5 minutes video work “A Short Story From Mom And Me”
March 2006 “red shoes #1” & “red shoes #2”, Base Gallery, Tokyo.
3&4February 2006 ‘watching me watching you watching me’ participated in program titled ‘Fraicheur de vivre’ curated by Michel Nuridsany at TransJakarta bus stop (Bunderan HI station), together with 18 other artists from France and Indonesia, for CCF Jakarta.
December 2005 one evening, site specific screening at a billboard of a clothing store 347/EAT in Bandung, video work without sound titled ‘<>’, looping.
July 2005 ‘pirates’, collaboration work with Rani Ravenina. a video installation using surveillance cameras stealing some works in the ‘OK Video!’ for ‘OK Video! Subversion’ at the National Gallery, curated by Agung Hujatnika Jenong and Che Kyongfa
June 2005 ‘restart’ , 01:08 minutes video (loop) exhibited at CCF Jakarta on a group exhibition #6 Vague, curated by Rifky Effendy
‘red shoes #1’ (6 pair of shoes made of cassava paper with red lamp in it) and ‘red shoes #2’ (6 pairs of shoes in different shape made of red imitation leather) exhibited at Gallery NAF, Nagoya, Japan on group exhibition Passing on distance, curated by Nurdian Ichsan and Midori Hirota
April 2005 ‘halo-halo Bandung’, 01:12 minutes video in ‘Imagining Bandung’ workshop and exhibition at Soemardja Gallery in cooperation with Goethe Institute. Curated by Aminudin TH Siregar
February 2005 ‘Displace Space’ group photography exhibition at Selasar Sunaryo Art Space, ‘untitled 1’ and ‘untitled 2’ media: digital photography. Curated by Agung Hujatnika Jenong and Aminuddin TH Siregar.
January 2005 ‘milk , tooth brush ,and apple’, cassava paper with lamp in it. Padi Gallery, API (Indonesian Sculptor Association) Exhibition
November 2004 ‘Rumah’ , group exhibition at Soemardja Gallery, FSRD ITB. ‘untitled’ work a stuffed pillow in a shape of house material : fabric, cotton, bamboo, metal wire.
Oktober 2004 After Party, Common Room, Bandung. Tiarma Sirait featuring: Adhya Bimbo, N’Chesse, Prilla Tania. video documentation ‘After Party’ edited by Gustaff H.
September 2004 Premiere Vue at Passage de Retz, Paris. group exhibition. video ‘watching me watching you watching me’, curated by Michel Nuridsany
May 2004 Lontar Gallery, Jakarta. Video :’eat!’
April 2004 Electronic City Bandung, Beyond Panopticon art and global media project, video titled: ‘eat!’
July 2003 Cemara Gallery, Jakarta. Exhibition titled; Childhood Object. Works titled ‘Infinity I’ and ‘Infinity II’, material: paper
June 2003 Cemeti Gallery, Jogja. Exhibition titled; Seductive, Boys Don’t Cry. Works titled Sweetie, material: carved sugar cubes and performance titled “tea with LOVE”
May 2003 Ruang Rupa, Jakarta. Exhibition titled Seductive, Boys Don’t Cry. Work titled barter, material : white glossy paint on white wall.
September 2001 Nu Art Gallery, untitled work, material : magazine paper Program Mandiri BAE, Massage of Medium (craft), works titled ‘infinity’ and ‘victim’, material : cassava paper
June 2001 Indonesian Contemporary Craft Exhibition at National Gallery, Jakarta. untitled work, material : cassava paper

SOLO EXHIBITION
July 2005 ‘watching me watching you watching me’, exhibited at Room#1, curated by Heru Hikayat
December 2003 solo exhibition at CCF, Bandung titled Phiruku, video and cassava paper installation, titled “9cm taller’

ART PROJECT
June-July 2004 art project ‘Modus And Media’, at Kita Gallery, Bandung a project titled ‘I __________ therefore I am’
together with : Gusbarlian Lubis, Gustaff H.Iskandar, Sarah Ginting, Andry Mohamad
Exhibited at Kita Gallery 15-30th July 2004 as:
i. cards in frames on the floor
ii. slide show of the cards
iii. cards in an album
curated by Bambang Subarnas

PERFORMANCE

Desember 2006 IIPAE(Indonesia International Performance Art Event), National Gallery Jakarta
April 2004 >>second IAPAO meeting, solo performance titled ‘the bride and the broom’
September 2003 BaPAF, video performance at Electronic City, BEC. titled ‘watching me watching you watching me’
September 2001 BAE, with Danceisbastard making an art performance inside a tour bus, titled Tour D’Mistery of Art:
solo performance, untitled at Nu Art Gallery
May 2001 with Danceisbastard making an art performance titled Maharani, The Stolen Season a Taman Budaya Open Theater.
November 2000 Danceisbastard Art Performance Festival, solo performance titled Homo Sapiens
2000 Performance titled #4 at CCF Bandung with Lambaners (an experimental movers group)
1998 Performance titled Max Havelaar at Taman Budaya Theater with Lambaners

VIDEO DOCUMENTATION
January 2006 AD FEST 2005 exhibition at Selasar Sunaryo Art Space
August 2005 International Literary Biennale 2005 at and for Selasar Sunaryo Art Space.
June 2005 Selasar Sunaryo Art Space Kids Program
March 2005 video documentation of UNESCO-Aschberg Artist In Residence Program, visiting artist Han Seongpil (photographer from Korea) for Selasar Sunaryo Art Space
January 2005 video documentation of dance workshop with Sen Hea Ha (choreographer from Korea) for Selasar Sunaryo Art Space
November 2004 video documentation of ‘Rumah’ workshop with Toshihiro Kuno from Nagoya University of Arts, for Soemadja Gallery(ITB).
April, 2004 video documentation of video<>painting kadek, Filippo Sciascia’s solo exhibition for Selasar Sunaryo Art Space
March 2004 Artscope group exhibition of Indonesian and Japanese Artists for Selasar Sunaryo Art Space
February, 2004 UNESCO-Aschberg Artist In Residence Program, visiting artist: Katarzyna Dreszer from Poland for Selasar Sunaryo Art Space

VideoBabes

November 2006 “meet mister greet” video-performance in collaboration with Pascal Contet, French accordionist. At Selasar Sunaryo Art Space, Bandung and Cemara 6 Gallery, Jakarta
January 2006 Video screening at Wedding Circle, Gang Festival 2005, Sydney
November 2005 A talk and presentation at Copenhagen TV station, programmed by Nanna Buhl
September 2005 RecIt3, video screening at Rumah Buku, Bandung
August 2005 Video / Hits / Art a video exhibition organized and curated by VideoBabes at Selasar Sunaryo Art Space as part of the Third Art Camp Program (program co-operated by ASEF and Bandung Center for New Media Art)
May 2005 Conducting a music video workshop and screening project by British Council (Indonesia) called Brit Nite Out
April 2005 RecIt 2, video screening at Common Room
April 2005 Video screening at Minikino Jakarta, Bandung and Bali, programmed by Ariani Darmawan
February 2005 Video screening at Institute of Contemporary Art, London (Insomnia Project by Ong Keng Sen)
December 2004 VideoChart (RecIt 1) at Common Room, Bandung.
Video screening ‘Love is’
December 2004 Public Screening at Flying Circus Project, TheatreWorks, Singapore

One Response to “Prilla Tania Online-Exhibition”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s