Solo Exhibition

ON LAST SUPPER by J. Ariadhitya Pramuhendra

holy-mass.jpg

 

11 – 25 March 2008

I believe that God lives within me and I can only find God within me.
Sometimes we can only imagine, what if we were there,
sit right next to them, what they were discussing, what they were feeling, what they were imagining…”

just imagine.

( J ARIADHITYA PRAMUHENDRA)

English

An Introductory Note

The Last Supper
By Y. H. Christyanto, OSC
A Monk of Holy Cross Order

Before the feast of Passover, Jesus knew that his hour had come to pass from this world to the Father. He loved his own in the world and he loved them to the end. The devil had already induced Judas, son of Simon the Iscariot, to hand him over. (John 13: 1 – 4)
The painting of The Last Supper has been the center of an interesting conversation for quite some time. Lately, though, the conversation gained some volume. The writing of Dan Brown put it onto pedestal once again. On this painting, The Last Supper by Leonardo Da Vinci, question and debates started to swirl around it. The painting gains an enormous attention due to the power to unveil the very mystery of Christianity (or so they say).

Is it really that powerful and important; is it really that valid that it can be a proof and a vessel to unveil the mystery of Christianity and the Godness of Jesus? Can an art work be an instrument to investigate faith and its struggle?

The scene of the Last Supper is a legend imbued in every mind of Christians. The Supper continuously repeated in the holy Eucharist (the main ritual) of every Roman Catholic. The last supper has become a holy tale, describing the ritual that has been adopted and presented in the form of holy Eucharist, become an epitome and the main source of living a Christian life, continuously represented and become the power of soul pilgrimage to every Catholics. The ritual has become a statement of grace and the true sacrifice, one that every Christians (especially Catholics) has to live in.
The painting of The Last Supper had been used so many time by painters of various eras, such as Leonardo Da Vinci, Ducco di Buoninsegna (1308-11), Dieric the Elder Bouts (1464-67), Domenico Ghirlandaio (1476), Domenico Ghirlandaio (1480), Domenico Ghirlandaio (1486), Leonardo da Vinci (16th C. copy), Albrecht Dürer (1510), Dürer (1511), Andrea del Sarto (1520-25), Dürer(1523), Jacopo Bassano (1542), and Salvador Dali. The theme of this painting stays more than just aesthetical value or merely the product of aesthetical thought but goes further in many directions. It can be seen as:
– A religious journey, when the painter want to see the religiosity of the world, how the world come to his view.
– A journey of faith; the painting serves as the vessel of a journey of faith for a Christian (the right term for the follower of Jesus, instead of Nasrani!). The experience of atonement, that he experienced on the Godness reality, One that he believe and confirm, the experience of faith and the ups-and-downs of one’s believe (faith degradation, consolation, desolation, depression, gratefulness, emptiness), even on emptiness that one try to give more sense to.
– An aesthetical journey; the painter goes through a development of faith marked by a pilgrimage to the aesthetics of art. On this occasion, it is painting. Painting is more than just a problem seen from the art side, but a journey of meaning in contemplation contemplation in imagery, using imagination and pictures as the methods).

youre-gonna-carry-the-weig.jpg

The Last Supper is a holy story that has been kept on living by the Catholics, a continuously contemplated story through image and imagination. This painter, whether he realize it or not, have been living it through his faith as a Catholic. It is such an intimate story, executed and experienced. This painter, which most certainty, had been going through a journey of faith that he had expressed with his own authentic method. This journey of faith is more than just a creative process of a young artist in shedding the skin of his daily realities, or stopping just as an aesthetic struggle of an artist. Instead, he wanted to express his faith in an imaginative image of a faith to God. A Catholic.

This work might be an expression of annoyance and at the same time admiration upon the Reality of God. I am sure that any work, including this young painter, is more than just a mindless modeling to the problems that emerge from the trends of issues on contemporary condition, but a true statement as a Catholic on account of his faith. It is a form of responsibility that was not driven by dogma or official teaching, but by a personal struggle, a contemplation of living in an art world. It is a spiritual struggle which dare not venture into the customary Catholic tradition but goes further into the true freedom that the Lord has blessed upon us all. This painter wanted to give an independent meaning upon them. This is what is always been expected from every true Catholic, to give a meaning to faith, from the struggle of life, with the guidance of the holy teachings. Enjoy your contemplation into the imagery world. Build your faith on imagination and creativity, and one that is not merely driven by a narrow rationality, a naïveté fanatic. Happy Creating, contemplating the beauty of the world to go into the depth of one self. God will inspire you through an imaginative image. Happy creating, The Beauty will guard you, always. (translated into english by Arief Ash Shiddiq)

Cimahi, 29 February 2008

last-supper-performed-1.jpg

Bahasa Indonesia

Tulisan Sambutan

The Last Supper/Perjamuan Terakhir
Oleh Y. H. Christyanto, OSC
Biarawan Ordo Salib Suci

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. (Yoh 13: 1 -2)

Lukisan Perjamuan menjadi pembicaraan yang menarik sejak lama. Dan ditambah lagi akhir-akhir ini, Lukisan Perjamuan Terakhir menjadi tambah menggema. Tulisan Dan Brown membuatnya jadi terkenal kembali. Lukisan Perjamuan Terakhir yang berasal dari lukisan Leonardo Da Vinci. Perdebatan dan pertanyaan muncul berseliweran sekitar Lukisan tersebut. Lukisan itu menjadi pergunjingan yang seru karena mau mengungkap sisi yang paling misterius dari kekristenan (katanya). Dan kalau berhasil diungkap akan mampu menguak tabir kekristenan. Sebegitu penting dan validnyakah sehingga lukisan itu bisa menjadi bukti dan sarana menguak misteri kekristenan dan keilahian Yesus? Apakah sebuah karya seni menjadi sebuah alat untuk investigasi sebuah iman dan pergulatannya?
13-minutes-after.jpg

Kisah Perjamuan Terakhir melegenda dan merasuk dalam benak orang-orang kristiani. Perjamuan itu terus dituangkan dalam Ekaristi suci (ibadat utama) bagi umat Katolik Roma. Perjamuan terakhir menjadi kisah suci yang menggambarkan perjamuan yang ditiru dan hadirkan setiap waktu dalam perjamuan Ekaristi (ibadat utama bagi orang Kristen Katolik). Perjamuan dalam bentuk Ekaristi suci menjadi puncak dan sumber hidup kristiani yang terus menerus dihadirkan kembali dan menjadi kekuatan peziarahan batin orang katolik. Perjamuan itu menjadi ungkapan syukur dan kurban yang nyata, yang harus dihidupi seorang kristiani (katolik khususnya).
Lukisan Perjamuan Terakhir menjadi tema yang kerap kali diangkat oleh para pelukis misalnya Leonardo Da vinci, Ducco di Buoninsegna (1308-11), Dieric the Elder Bouts (1464-67), Domenico Ghirlandaio (1476), Domenico Ghirlandaio (1480), Domenico Ghirlandaio (1486), Leonardo da Vinci (16th C. copy), Albrecht Dürer (1510), Dürer (1511), Andrea del Sarto (1520-25), Dürer(1523), Jacopo Bassano (1542), Salvador Dali. Lukisan tema ini bukanlah sekedar
memiliki nilai estetis atau diploroti dengan pemikiran estetika semata namun lebih dalam lagi.

Lukisan tema tersebut bisa dilihat sebagai;
– Perjalanan religiositas artinya pelukis mau melihat religiositas dunia seperti apa dunia itu dalam pandangannya.
– Perjalanan iman; Lukisan sebagai media perjalanan iman pribadi sebagai seorang Kristiani (istilah yang benar untuk orang Kristen dan bukan Nasrani!). Pengalaman pertobatan, pengalaman dengan realitas Ilahi yang diyakini dan diamini. Pengalaman iman dengan pasang surut kepercayaan (degradasi iman, konsolasi, desolasi, keterpurukan, kebersyukuran, kekosongan). Bahkan kekosongan yang mencoba dimaknai lebih.
– Perjalan estetis; Pelukis mengalami perkembangan iman yang dimaknai lewat peziarahan estetis seni. Saat ini adalah seni lukis. Lukisan bukan sekedar masalah yang dikuliti dari sisi seni melulu tapi sebagai sebuah perjalanan makna dalam kontemplasi (permenungan dalam pencitraan yang menggunakan imajinasi dan imaji sebagai sarananya).

Perjamuan Terakhir sebagai kisah suci yang dihidupi oleh orang katolik menjadi kisah yang terus menerus dikontemplasikan dan direnungkan secara imaji dan imajinasi. Pelukis ini sebagai orang katolik sadar atau tidak menghidupinya dalam kehidupan imannya sebagai orang katolik. Peristiwa yang dekat, dijalani dan dialami. Pelukis ini, hampir pasti menjalani pengembaraan iman yang dituangkan dengan caranya yang khas dan otentik. Pengembaraan iman yang bukan melulu sebagai proses kreatif sebagai seorang seniman muda untuk menguliti realitas kesehariannya ataupun melulu jatuh dalam pergulatan estetis sebagai seniman. Ia mau mengungkapkan imannya dalam imaji yang imajinatif dari iman akan Sang Ilahi. Orang Katolik.

Bisa jadi karya ini sebagai kegusaran sekaligus kekaguman akan Realitas Yang Ilahi. Saya yakin sebuah karya, pun karya pelukis muda ini, bukan mau latah dengan problematik yang muncul dari trend problematik zaman kiwari namun lebih sebagai ungkapan kesejatian sebagai seorang Katolik dalam mempertanggung jawabkan yang dipercayai . Bentuk tanggungjawab yang bukan disetir oleh sebuah dogma atau ajaran resmi namun sebagai pergulatan pribadi, Sebuah kontemplasi hidup dalam dunia seni. Pergulatan Rohani yang tidak melacur dalam kebiasaan Kekatolikan tapi kebebasan sejati yang diberikan Yang Ilahi. Pelukis ini mau memaknainya secara independen. Inilah yang senantiasa diharapkan dari setiap insan katolik sejati. Memaknai keimanannya dari pergulatan hidup dengan terang ajaran-ajaran suci. Selamat berkontemplasi memasuki dunia imaji. Membuat iman lebih imajinatif dan kreatif yang tidak melulu disetir oleh rasionalitas yang sempit. Kefanatikan yang naif. Selamat Berkarya. Berkontemplasi di keindahan duniawi tuk masuki kedalaman diri. Sang Ilahi menjadi inspirasi lewat Imaji yang imajinatif. Selamat Berkarya Sang Keindahan akan menaungimu selalu

Cimahi, 29 Februari 2008

English

Curatorial Note

On Last Supper:
Between An Image and A Certain Meaning of Faith
By Rifky Effendy

The Last Supper by Leonardo da Vinci

The works of J Ariadhitya Pramuhendra in his first solo exhibition turned out to be such a remarkable works. Some of his earlier works had appeared in some prominent group exhibition and had caught quite an attention from the public. In this solo exhibition, it is Pramuhendra’s intention to meditate upon the image of one of the 15th century renaissance maestro’s masterpiece, a painting by Leonardo Da Vinci (1452 – 1519), a fresco or mural in the Santa Mara delle Grazie, Milan, called The Last Supper (or Il Cenacolo or L’Ultima Cena). This is an allegoric painting (and an appropriation) depicting the drama, translated from the Holy Bible, when Jesus Christ attended the last gathering in a dinner table with his 12 disciples.

Last Supper in Two Problematic Context

There are two important reasons why The Last Supper gains such an important meaning to Pramuhendra and other Christian devotee. The first reason is related to religiosity. The Last Supper poses such an important scene in this religion. This is felt most intensely by the Catholics, for they have based their rituals of mass on the exact occasion. In the scene, Jesus proclaimed that a certain plot of betrayal will be laid upon him by one of his disciple. We will find out later that who he meant was Judas. And so, the next morning, He faced the trial in front of the Jew rabbis, and was sentenced by crucifixion by the Roman soldier. To Pramuhendra, the scene of the last supper contains a metaphor, a crucial moment in the religion experience, and a symbolic meaning, in which every figure appears in the scene might depicts the specific state of faith of someone in a certain moment.

In Mark Chapter 14, it is written, that:

22 While they were eating, he took bread, said the blessing, broke it, and gave it to them, and said, “Take it; this is my body.” 23 Then he took a cup, gave thanks, and gave it to them, and they all drank from it. 24 He said to them, “This is my blood of the covenant, which will be shed for many. 25 Amen, I say to you, I shall not drink again the fruit of the vine until the day when I drink it new in the kingdom of God.” Then, after singing a hymn, they went out to the Mount of Olives. 1)

The second reason is related to the mystery of The Last Supper imagery itself. In the Bible, this scene is mentioned but briefly, yet contains the full meaning of His existence. There are a lot of allegorical depictions in the form of iconography on this scene before the Leonardo version, but The Last Supper of Leonardo was noted, by many historian and art expert, as a breakthrough masterpiece, a revolution in paradigm, especially in the context of the newly born renaissance in Europe. When The Last Supper was ordered by the Pope for the Church of Milan, Leonardo had created a monumental drama and had marked the works with his genius scientific mind. In his work, we encounter a scene where Jesus was placed amidst his twelve disciples, when he announced the betrayal act that will be done by one of His disciples. We can also see the uneasy gestures that they made when they hear the news.

divided-and-fold.jpg

Da Vinci’s Last Supper is 460 by 880 centimeter in size, and was done after a laborious work that started from 1495 to 1498. A closer inspection would reveal a symmetrical design, Jesus as the center, and His twelve apostles, six on each side of the table, spread on His sides. All the movement was taken from models. The table, where they gathered, was placed in the middle of the room in symmetrical methods, with a perfect angle in perspective. We can draw two straight lines from each corner of the table and each will meet in one point. Linear perspective was believed by many experts as one of the many genius streaks of Da Vinci. He had found a mathematical and calculated method of drawing that had become a reference to modern drawing technique. We can see this on building constructions of today, especially on the plafond and its grid-like feature, and the windows of the building.

We can also take a closer look on the long table used in the meal. Da Vinci made a different interpretation than those who painted the scene before him. Such a long table might felt weird, and the New Testament does not give a specific description on the occasion. The Book only gave us the description of Jesus on the dining table, surrounded by his twelve disciples. We can imagine that the table of Jesus and His disciples should not be such a lavish table. The meal was depicted of being happened in a room inside a house, having attracted minimal attention, exactly because the nature of the scene that had to avoid attracting the public attention of the era.

It seems that Da Vinci had succeeded in giving a new meaning to the meal, such a brief holy event, yet tremendously important, for the exact reason that this occasion marked the beginning of a story that would alter the world history: the birth of Christianity. Da Vinci, in his painting, had depicted such a glorious, dramatic, and theatrical version of The Last Supper. The gestures of bodies, the table and the space bearing the occasion turned to be a magnificent stage, a noble scene. The re-construction, for Da Vinci, is an effort of appropriation to the allegorical artifact forms on the depiction of this scene that was created before his time.

Leonardo Da Vinci is a legendary figure, gaining an almost mythological quality in the realm of science and art, with his mysteries, enigma, and unique personality. He is also known as the source of many astonishing invention. The Last Supper is one of the evidence of his artistic achievement, in the form of the perfection of mathematics and science. We recognize three art masters in the early Renaissance—the other two are Michelangelo and Raphael—whom works are widely known by the public long before the works of Da Vinci. It was only at the 19th century that the historians recognized some of his art works. It was not until the 20th century, that he had been known throughout the world through his painting, the most celebrated, and most appropriated Mona Lisa 2) . His name gained a multiple exposure in the 21st century because of the success of Dan Brown’s smash-hit, best-seller, highly controversial fiction, Da Vinci Code.

It is therefore a most intriguing case, that a young artist, such as Pramuhendra, would be willing to revisit the image of Da Vinci’s The Last Supper in a specific project. It would be interesting to see how he had related himself to his religion as the basis of his art work project, and also on how he had to make a specific approach to such a canonical image.

Dissecting Last Supper
lsandidetails.jpg In an exhibition entitled Tentang Last Supper (On Last Supper), he spread a continuous canvas, 7 meter long, 1,5 meter wide, and started to paint figures of himself, all 13 of them. Before the execution on canvas, he had paid a thorough observation on each of the figure in Da Vinci’s work. Then, he had posed those postures with his own bare chested body and recorded every posture with digital camera. The snapshot was then processed through computer imagery processing in order to build his image of The Last Supper. Pramuhendra, then wore a robe, one that is usually worn in a mass, the kind of attire that bear a resemblance to the cloth in the Leonardo image for his poses; him being the director and actor at the same time.

Pramuhendra plunged himself to the world of Da Vinci’s Last Supper, revisiting the most basic construction of imagery, modeling and refashioning the figures with figures of himself. He had even tried to see it from the reverse side in trying to find a different angle. He made a conversation to the image and pretending to be a witness, was there at the occasion and had joined the holy gathering.

Our imagination and our behavior to the art works with such a difference background to our existence and reality had grown very different since the invention of printing machine and photography. The images of art works which lies only in special churches or museums can be seen up, close, and personal.

Walter Benjamin, the melancholic Jewish – German philosopher, called the modern era as the era where we enter a post-auratic world. Within this era, a long journeyed pilgrimage to see the masterpieces or other sacred artifacts from all over the world is no longer necessary. With the mechanical reproduction machine, the print and photograph, we can find books complete with the detailed pictures in which we can see the information of the faraway lands with such devotion.3 ) They can even create museums without walls or building a virtual world inside our mind, just like the notion of the French writer, André Malraux, in the 1950’s.
And now, in the era where Pramuhendra and we live in, information had gotten much easier and faster to access, wherever the internet goes, through the conventional computers to the least conventional cellular phones. To Walter Benjamin, it poses a new problem to the existence of the art works. Their authentic values are ripped away from their existence: the authenticity, and the consecrated values are gone, the ‘aura’ had disappeared. The image had become an extended public property, the original value of the art works are gone, replaced by the values emerged from the values of their observer. Who, then, is the bearer of significance; the creator or the writer or the reader? To the post-moderns, the author had died giving birth to the work.

last-supper-performed-3.jpg

Pramuhendra, I, and some of us might not yet have the chance to see the grandeur of Da Vinci’s work directly in the Church of Milan. However, the image is a familiar one, the value and meaning goes beyond its existence. Does someone have the right to change somebody else’s work, without sufficient reason, or does someone have the right to apply a different interpretation to it? That is the question. The dissecting methods that Pramuhendra did, do remind me of something that was done by a contemporary Artist, Yasumasa Morimura. Since the early 1990s he had begun a project, reacting to the images or paintings of the European masters, such as Vincent van Gogh, Velazques, Rembrandt, and Gerhard Richter. He had been taking pictures of himself posing like the images of their paintings, where sometime he had to use computer effect to produce pictures where he appears simultaneously in large numbers, gaining some kind of omnipresence-like qualities.

This appropriation approach had also been taken by Cindy Sherman through her photographic works by doing certain poses in the scenes of famous classic movies. Going further in history of Western contemporary art, Marchel Duchamp and Salvador Dali had also done a parody on the celebrated painting of Da Vinci, the Mona Lisa. Appropriation had gained a status of being an interesting approach to the artist in exploring the image, with a myriad of reasons, ranging from the task of self-testing, criticizing, to making parody. However, they all come down to the problem of articulation, in order to produce a visualization with a new constructed meaning, one that fits the personal and social context of a certain society.

Such is the case of Pramuhendra’s self-portraits who had replaced the existence of Jesus figure and His twelve apostles in the image of Da Vinci’s work. Or how he had imagined the situation when Jesus stayed alone in the table without His disciples, imagining how the table would look when it was abandoned after the meal was over. The depiction of Jesus is certainly no novelty. He had been pictured in a myriad of appearance for hundreds of years. We have got dark skinned Jesus, Anglo-Saxons, even Asian. The passion of someone who re-interprets the work of art with special meaning to that person is the main reason of these activities, especially when that reason got to do with a quest of spiritual values and religiosity in the cultural and social setting.

A more or less the same passion might be the basis of Da Vinci’s motive in creating The Last Supper, especially when one look at presence of the other iconographies. Is it possible that the images of the figures on the painting is also representing the master’s self (or selves), is there a self-portraiture of Leonardo Da Vinci hidden in the painting? Did he engraft his personal values in the picture? The church of the era would be strict in forbidding the self portraiture of the artist in the creation of an icon in the church institution and in the palace. This is one of the enigmas of Leonardo Da Vinci that attracts so many interests from the contemporary interpreter, such as Dan Brown.

To the artist, the tradition of self portrait or self portrayal is more than just an examination of his psychological existence, or merely a visual autobiography. It is also a reflection of external issues internalized within him. Self portrait gains its importance through its capabilities in depicting the other problems through the individual problems in a context which he did not relate directly. We often see the many poses and ironic face of Agus Suwage, intensely capturing the problem of identity in the society, while diving and swimming in the iconic and popular images. Artists always ponder on the subtleness of his existence amidst his time and his life. An artist is like radar, imaging every signal of his era’s challenges. Ever since the time of Raden Saleh, almost two centuries ago, we had had the tradition of appropriating and inserting ourselves in the painting, in his case as a resistance to the issues of colonialism.4)

The difference lies in the main motif. Pramuhendra’s works goes deeply into the personal religiosity. He re-interpreted the meaning of the last supper through his appearance as the representation of the present man. He seems to ask us to contemplate the nature of each character symbolized in the thirteen figures as the re-contextualization of values in the Bible. His self portrait appears as the representation of the humane characters that he once shown in his works in 2007. In the series of works entitled Seven, as an allegory of the seven deadly sin, he appears as figures that stands altogether in fuzzy imagery. Within Pramuhendra, religion surely is a pivotal point, expanding beyond ritualized routine dogma to a more personal and constructive meaning.

Although not necessarily similar to Mel Gibson with his radical effort in recapturing the allegorical fragment of Jesus’ life in the original context and presenting such a brutal pain in his film Passion of Christ, in approaching The Last Supper, Pramuhendra had worked in a cinematic logic. He had seemed to carry a camera into a time tunnel, witnessing and stepping around the image from every angle by entering Da Vinci’s world while conversing, trying to grasp each character, each gesture, and coming out and coming back again to replace their roles. We can see the work with his self portrait alone in front of the table, as a gesture of Jesus Christ waiting for his twelve disciples. He had waited and thought about facing them to pronounce the signs of God. Or, is it just Pramuhendra himself who stayed there, after the meal, as if a witness to the whole scene along with the remnants scattered on the table?

lastsupperbeside.jpg

It is here that he adopted the concept of incarnation in his religion and articulated them further. The picture of his selves supporting a huge grail is a spiritual symbol, a representation of a burden. The Grail of Jesus is an allegory to Pramuhendra’s self, a continuation of his reading on the signs motioned in the Book. The Grail is a witness to the holy pledge of self sacrifice that is taken by His disciples and His devotee in continuing his teachings. Pramuhendra had also replaced the sacrifice of Jesus by presenting the cast of his shoe with a hole piercing the sole. Rather than presenting a shoe from Jesus’ era, or His nail-pierced foot on the crucifix, he had used a his daily sneaker. The symbolization that Pramuhendra had done on sacrifice is an effort of interpretation that goes beyond the context of Da Vinci’s supper context into a personal statement on the value and the drama of Jesus.

Closure
With his black-and-white atmosphered art works: either in the form of charcoal on canvas, digital photography, installation, and objects, Pramuhendra has presented to us an enigmatic atmosphere and has created a classic atmosphere. The black-and-white’s have also presented a room with the resoluteness of the dark and bright, while the haziness of grey gives us a poignant feeling in its simplicity. His skill in drawing is no longer a hindrance in presenting the dramatic twilight of Jesus. The digitally processed photographs as their reference seem to have been crushed by the thick lines of blackness that he had put intensely on the canvases. However, this does not render any devaluation on the idea transference value of the digital images. The computer-software-processed pictures are quite capable in giving us a simple, unadorned and clear description of the artist’s concepts.

The artistic work of Pramuhendra has presented to us a new meaning in drawing. By his sensitivity to a medium, he has stirred such a basic aesthetics, the power of sensation upon such a complex reality through a chunk of charcoal. These are primitive forces driven by the latest construction in imagery. There is this interesting characteristic in the artists of information era. Although the support of photography and computer are quite capable of dulling the skill of the hand and have stirred quite a concern of their being able to kill the practice of painting, Asmudjo J Irianto, an artist as well as curator, had made a notion that painting will never be obsolete. In the context of the most up-to-date art development, when anything can become and anything can be said with the practice, painting is thus a legitimate part of it—just as any other medium and possibilities. 5) The same goes for Pramuhendra’s drawings, they showing a different attitude, unstuck by the old ways.

The approach with such method that Pramuhendra did is a growing interest in the context of Indonesian art development. The condition of post-industry and post-colonial provides an unhampered freedom in exploring the many images in a more personal space. His thorough dissection on the image of The Last Supper was en effort in revisiting and drawing beyond the myth that had shrouded the Da Vinci’s masterpiece and the meaning of the last meal. It calls to us to go to a spiritual adventure and to contemplate a historical event in a constructive and critical imagination. Not as a rejection or an effort to undervalue its existence and values, but to build a new construction and giving it a fresh room and spirit in our daily life and its future. ***

Jakarta, March 2008
Bahasa Indonesia

Catatan Kuratorial

Tentang Last Supper:
Antara Imaji dan Sebuah Makna Keimanan
Oleh Rifky Effendy

Karya-karya perupa J. Ariadhitya Pramuhendra dalam rangkaian pameran tunggal pertamanya menjadi sangat istimewa. Beberapa kali karya-karyanya muncul dalam pameran-pameran bersama yang penting dan mendapat perhatian besar dari publik. Dalam pameran tunggal ini secara mendalam Pramuhendra berhasrat menguak imaji salah satu maha karya sang maestro Renaisans abad 15, Leonardo Da Vinci (1452-1519), sebuah lukisan dinding atau mural di Santa Maria delle Grazie, Milan; berjudul Perjamuan Terakhir atau The Last Supper (atau Il Cenacolo or L’Ultima Cena). Lukisan ini adalah sebuah lukisan alegori (dan apropriasi) yang menggambarkan drama yang ditafsirkan dari kitab suci Injil, saatYesus Kristus mengadakan perjamuan makan bersama ke 12 muridnya dalam satu meja.

Last Supper dalam Dua Konteks Persoalan

Ada dua alasan penting mengapa karya The Last Supper menjadi sangat penting bagi Pramuhendra maupun umat Kristiani lainnya. Pertama menyangkut relijiusitas. The Last Supper merupakan peristiwa yang penting dalam nilai keagamaan, terutama umat Katolik, yang mendasarkan ritual misa di gereja pada kejadian ini. Di malam itu Yesus mengumumkan akan adanya upaya pengkhianatan atas dirinya oleh salah seorang murid, yang kemudian kita ketahui bernama Judas. Kita lalu ketahui bahwa pada keesokan harinya, diri-Nya kemudian menghadapi pengadilan para Rabi Yahudi dan kemudian dijatuhi hukuman penyaliban oleh tentara Romawi. Bagi Pramuhendra, peristiwa itu adalah suatu metafor, suatu momentum penting dalam kehidupan reliji serta memiliki makna simbolik bagi dirinya, bahwa setiap sosok di sana mungkin bisa mewakili situasi keimanan seseorang pada saat sekarang.

Dalam ayat Markus 14 diuraikan:
22 Dan ketika Yesus dan murid-murid Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahnya, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Ambilah inilah tubuhKu.” 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap sukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: “ Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam kerajaan Allah.”1

Alasan kedua, berkaitan dengan problematika imaji The Last Supper itu sendiri. Dalam kitab Injil, peristiwa ini ternyata hanya disebut secara sekilas, pendek, namun penuh makna penting bagi keberadaan-Nya. Ada banyak penggambaran alegoris dalam bentuk ikonografi tentang peristiwa ini sebelum digambarkan Leonardo, tapi Last Supper versi Leonardo dicatat khusus oleh banyak sejarawan dan ahli seni sebagai sebuah mahakarya yang melahirkan cara pandang baru, terutama ketika Eropa memasuki jaman pencerahan. Ketika The Last Supper dipesan khusus oleh Paus untuk Gereja di Milan itu, Leonardo kemudian membuatnya menjadi sebuah drama yang monumental sekaligus juga menandai kehebatannya dalam sains. Dalam karyanya kita dihadapkan pada suatu adegan saat Yesus berada di tengah ke-12 muridnya, ketika Ia mengumumkan tentang pengkhianatan atas diri-Nya. Kita juga melihat gestur mereka yang gelisah ketika mendengar berita itu.

The Last Supper karya Leonardo berukuran 460 – 880 centimeter, selesai setelah pengerjaan seksama dari 1495 hingga rampung pada 1498. Bila kita perhatikan dengan seksama, sang Yesus berada sebagai pusat di tengah meja , ke-12 murid berada masing – masing 6 di sebelah kiri dan kanannya. Semua gerakan diperagakan oleh model. Meja tempat mereka berkumpul berada di tengah ruangan secara simetris, dengan sudut pandang sempurna secara perspektif. Bila kita tarik garis lurus masing-masing akan bertemu dalam satu titik. Garis perspektif dipercayai banyak ahli sebagai salah satu kejeniusan Leonardo, ia menemukan metode cara penggambaran secara matematis dan terhitung yang kemudian menjadi acuan menggambar teknik modern. Kita bisa perhatikan konstruksi bangunan ruang, terutama plafon yang berupa grid, serta jendela di sekitarnya.

the-waiter.jpg

Lalu kita juga bisa perhatikan meja panjang yang digunakan dalam perjamuan itu. Leonardo menafsirkannya berbeda dengan para pelukis sebelumnya. Meja sepanjang itu mungkin terasa aneh, dan dalam Injil perjanjian Baru tak disebutkan spesifik, tetapi hanya digambarkan Yesus ketika berada di meja perjamuan , dikelilingi ke-12 murid. Kita bisa membayangkan meja ketika jaman Yesus dan muridNya hidup, yang kesehariannya sangat sederhana, bukan sebagai sosok yang berlimpah harta. Perjamuan itu digambarkan dalam sebuah ruangan di sebuah rumah, dan juga tak banyak menarik perhatian, karena memang selalu harus menghindar dari perhatian masyarakat umum kala itu.

Leonardo seolah memberikan makna baru bagi perjamuan itu, sebuah peristiwa suci yang singkat, namun sangat penting, karena pada saat itulah sebenarnya dimulai drama yang akan mengubah sejarah dunia terutama kemunculan Kristiani. Leonardo dalam lukisannya menggambarkan Last Supper begitu megah, dramatik dan teatrikal. Gestur tubuh-tubuh, meja dan ruangan sekitarnya seolah berubah menjadi panggung megah, menjadi peristiwa yang agung. Re-konstruksi ini bagi Leonardo dalam The Last Supper adalah upaya untuk mengapropriasi bentuk-bentuk artefak alegori yang telah diciptakan sebelumnya yang menggambarkan peristiwa ini.

Leonardo Da Vinci merupakan sosok yang melegenda, hampir menjadi mitos dalam dunia seni dan sains, punya banyak misteri, penuh teka-teki dan unik secara personal. Ia dikenal juga dengan temuan-temuan yang mengejutkan banyak sejarawan. Karya the Last Supper merupakan bukti salah satu pencapaian artistik yang ia campur dengan kesempurnaan matematis dan sain. Kita mengenal tiga sosok ahli seni dalam masa awal Renaisans, dua lainnya: Michaelangelo dan Raphael yang banyak hasil karyanya dikenal oleh publik lebih dahulu. Baru pada abad ke-19 para sejarawan kemudian mengenal sebagian karya-karyanya, hingga abad ke-20 ia baru dikenal dunia lewat karya lukisannya Mona Lisa yang sohor dan paling sering direkayasa. 2 Namanya menjadi semakin santer dan semakin populer di abad ke-21 ini, berkat novel fiksi Best-Seller: Da Vinci Code, karya Dan Brown yang sangat kontroversial.

Oleh karena itu, menjadi sangat menarik, ketika perupa muda seperti Pramuhendra mencoba meninjau kembali imaji The Last Supper yang digambarkan Leonardo, dalam suatu proyek khusus. Menarik untuk melihat bagaimana ia mengaitkannya dengan persoalan dalam kehidupan relijiusitasnya sebagai landasan berkarya, juga bagaimana ia harus mengadakan pendekatan terhadap sebuah imaji yang kanonik.

Membedah Last Supper
Dalam pameran bertajuk Tentang Last Supper, ia membentang kanvas tanpa sambungan sepanjang 7 meter dan lebar 1,5 meter. Di sana ia mulai menggambar sosok-sosok potret dirinya sebanyak 13 orang. Sebelum mengeksekusi di kanvas, dengan seksama ia memperhatikan satu persatu sosok-sosok yang muncul dalam karya Leonardo. Ia kemudian memperagakan seluruh gestur dengan tubuhnya sendiri dengan telanjang dada dan kemudian direkam oleh kamera dijital. Foto hasil jepretan tersebut diolah lewat rekayasa komputer untuk menyusun imaji Last Supper-nya. Tak berhenti di situ, Pramuhendra kemudian memakai sebuah baju-berjubah yang biasa digunakan dalam misa gereja, yang juga kira-kira menyerupai pakaian yang ada dalam imaji Leonardo, untuk pose-posenya. Ia bertindak sebagai sutradara sekaligus pemerannya.

superstar-christ.jpg

Pramuhendra menyeburkan dirinya ke dalam dunia The Last Supper Leonardo, meninjau kembali konstruksi paling dasar imaji. Memperagakannya dan menggantikan sosok-sosok di sana dengan tubuhnya sendiri. Ia bahkan melakukan uji coba untuk melihatnya dari belakang , mencari kemungkinan sudut pandang berbeda. Ia berdialog dengan imaji itu dan seolah mampu menjadi saksi, berada dalam peristiwa itu dan mengelilingi perjamuan suci. Imajinasi dan perilaku kita pada sebuah dunia imaji karya-karya seni dari budaya yang berjarak jauh dari keberadaan serta realitas kita, menjadi sangat beda sejak penemuan mesin cetak dan fotografi. Imaji-imaji karya yang bersemayam di dalam gereja maupun museum, kita bisa lihat dari dekat dan tinjau lebih jauh.

Walter Benjamin, filsuf Yahudi-Jerman yang melankolis, menyebut era modern sebagai zaman di mana kita memasuki dunia pasca-auratik. Pada saat itulah kita tak perlu lagi mengadakan peziarahan yang jauh untuk melihat maha karya atau benda-benda sakral lainnya di dunia. Dengan mesin reproduksi mekanik, mesin cetak dan foto, kita bisa temukan buku-buku lengkap dengan gambar-gambar rinci sehingga informasi tentang dunia yang jauh itu bisa kita khusyuki. 3 Mereka bahkan telah menciptakan museum-museum tanpa dinding atau membentuk dunia virtual di dalam benak kita, seperti yang dilontarkan sastrawan Perancis, André Malraux di tahun 50-an.

Dan sekarang di masa Pramuhendra dan kita hidup, informasi menjadi lebih terbuka dan bisa kita akses dengan cepat, di mana saja melalui internet lewat komputer maupun telepon genggam. Bagi Benjamin ini menjadi problematika baru bagi eksistensi karya-karya tersebut. Nilai-nilai hakikinya tercerabut dari keberadaannya. Keotentikan, dan nilai-nilai yang disakralkan, atau ‘aura’ lenyap. Imaji menjadi milik publik yang luas, kekuatan nilai asali sebuah karya serta-merta hilang, digantikan oleh nilai-nilai yang muncul dari nilai pengamatnya. Lalu siapa sebenarnya yang memegang kendali makna? Pencipta atau pengarangnya atau pembaca ? Bagi kaum posmodernis sang pengarang telah mati serta-merta ketika karya itu dilahirkan.

Pramuhendra, saya dan sebagian dari kita mungkin belum pernah menyaksikan keagungan karya Leonardo secara langsung di Gereja di Milan itu. Tapi imajinya memang akrab dalam benak kita, nilai dan maknanya mendahului eksistensi dirinya sendiri. Pertanyaannya, apakah seseorang berhak untuk menggubah karya orang lain, secara semena-mena atau dimaknai secara berbeda? Metoda pembedahan yang dilakukan Pramuhendra setidaknya mengingatkan saya pada apa yang dilakukan perupa kontemporer dari Jepang, Yasumasa Morimura. Ia sejak awal 1990-an telah memulai proyeknya yang bereaksi terhadap imaji atas lukisan para maestro seni Eropa seperti Vincent Van Gogh, Velasquez , Rembrant dan Gerhard Richter. Ia memotret dirinya dengan dandanan dan berpose seperti pada imaji lukisan-lukisan mereka. Kadang ia harus menggunakan efek komputer untuk menghasilkan gambar, saat ia harus hadir sekaligus dalam jumlah yang banyak, memunculkan sebuah kualitas omnipresence.

Pendekatan apropriasi ini telah dilakukan pula oleh Cindy Sherman lewat karya-karya fotonya dengan melakukan pose-pose tertentu, seperti dalam adegan-adegan film klasik terkenal. Jauh ke belakang, dalam sejarah seni rupa kontemporer barat, Marchel Duchamp dan Salvador Dali pernah juga memarodikan karya Leonardo yang cukup sohor, Mona Lisa. Apropriasi telah menjadi sebuah pendekatan yang menarik bagi seniman dalam menjelajahi imaji, walaupun didasari begitu beragam alasan, mulai dalam rangka menguji diri, mengkritisi hingga parodi. Namun, kesemuanya mengarah kepada persoalan artikulasi untuk menghasilkan perupaan dengan konstruksi makna yang baru, yang sesuai dengan konteks personal dan sosial-budaya masyarakatnya.

Begitu pula kasus potret diri Pramuhendra yang menggantikan keberadaan sosok Yesus dan ke-12 muridnya dalam imaji Leonardo, atau saat ia membayangkan bagaimana Yesus berada di meja itu sendiri tanpa muridnya, membayangkan bagaimana suasana ketika meja itu ditinggalkan setelah perjamuan itu berakhir. Penggambaran tentang sosok Yesus tentu bukan tradisi yang baru, sudah ratusan tahun dan bahkan beberapa dimaknai secara berbeda, seperti imaji Yesus sebagai sosok yang berkulit hitam, sebagai orang kulit putih atau Asia. Hasrat seseorang untuk menafsirkan ulang karya seni yang punya makna khusus baginya merupakan alasan yang paling kuat, terutama berhubungan dengan pencarian nilai-nilai spiritual dan religiositas dalam konteks sosial-budaya.

Hasrat yang kurang lebih sama mungkin muncul dalam diri Leonardo ketika menciptakan The Last Supper, terutama ketika melihat berbagai ikonografi lainnya. Apakah mungkin imaji sosok-sosok di sana juga merepresentasikan kehadiran diri sang maestro, adakah potret diri Leonardo tergambar secara tersembunyi? Apakah ia menyisipkan nilai-nilai individu di sana? Konteks kehidupan gereja pada saat itu hampir pasti melarang penggambaran diri sang seniman dalam penciptaan ikonografi di dalam institusi gereja maupun istana. Inilah salah satu teka-teki sosok Leonardo terutama bagi para penafsir kontemporer, seperti halnya Dan Brown.

Bagi seniman, tradisi penggambaran diri atau potret diri, tidak hanya dipakai untuk menguji eksistensi psikologis dirinya, atau semacam visual autobiografi, tapi juga menjadi cerminan persoalan eksternal yang berkecamuk ke dalam dirinya. Potret diri menjadi penting, karena kita bisa melihat persoalan-persoalan lain lewat problema individu dalam konteks yang terkait di luar dirinya . Kita juga sering melihat berbagai pose dan raut wajah ironis Agus Suwage yang secara intens menangkap pokok-soal identitas dalam masyarakat, sembari terjun dan berenang dalam dunia imaji yang populer dan ikonik. Memang sang seniman selalu merenungkan nilai subtil tentang keberadaan dirinya di tengah jaman dan kehidupan. Seniman seolah menjadi antena yang mengalirkan sinyal berbagai problema jamannya. Kita telah memiliki tradisi ini, sejak Raden Saleh, ketika hampir dua abad lampau ia menyaksikan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda, menirunya dan menyisipkan imaji dirinya dalam lukisannya sebagai suatu resistensi terhadap wacana kolonial. 4

Bedanya, kekaryaan Pramuhendra lebih menusuk pada pokok soal dalam religiositas personal. Menafsirkan kembali makna dari peristiwa perjamuan terakhir melalui kemunculan dirinya sebagai perwakilan dari manusia sekarang. Ia seolah mengajak kita untuk merenungkan watak tiap karakter yang disimbolkan melalui ke 13 sosok itu, sebagai re-kontekstualisasi nilai-nilai yang terpancar dalam kitab Injil. Potret dirinya muncul sebagai perwakilan dari watak manusia yang pernah ia munculkan dalam karya-karyanya di tahun 2007. Dalam serial karya yang diberi tema Seven, sebagai suatu karya alegori dari tujuh dosa manusia (seven deadly sin), ia muncul menjadi tujuh sosok yang berjejer secara rampak dengan imaji yang baur. Dalam diri Pramuhendra tentu kehidupan religi menjadi titik keberangkatan yang paling inti. Ia tidak terhenti sebagai dogma serta ritual yang rutin, tapi berkembang menjadi pemaknaan yang lebih personal dan konstruktif.

Meskipun tak harus seperti Mel Gibson yang berupaya secara radikal menghadirkan kembali alegori penggalan kehidupan Yesus dalam konteks muasal dan menghadirkan kesakitan yang brutal, seperti dalam filmya Passion of Christ, dalam menghampiri subjek Last Supper, Pramuhendra bekerja dengan logika filmis. Ia seolah membawa kamera dalam lorong waktu, menghadiri dan mengelilingi imaji itu dari berbagai sudut pandang, dengan memasuki dunia Leonardo. Sembari berdialog, ia mencoba mengamati satu persatu wataknya, gesturnya, dan kemudian keluar dari sana untuk kemudian kembali lagi untuk mengganti peran mereka. Kita bisa melihat karya dengan potret dirinya di meja sendiri, sebagai gestur Yesus Kristus yang menunggu ke-12 muridnya datang, menunggu dan berpikir menghadapi mereka untuk menceritakan isyarat Sang Khalik, atau ia hanya sosok Pramuhendra yang tetap diam di sana ketika perjamuan telah usai, seolah menjadi saksi atas seluruh peristiwa tersebut bersama jejak-jejak yang tersisa di atas meja.

Di sinilah konsep inkarnasi dalam kepercayaan agama ia serap dan diartikulasikan lebih jauh lagi. Sosok-sosok dirinya yang sedang menopang sebuah cawan besar menjadi suatu simbol spiritual, tempat terepresentasikan suatu beban dirinya. Cawan sang Yesus menjadi alegori bagi diri Pramuhendra, menjadi kelanjutan tafsirannya atas tanda-tanda yang di isyaratkan dalam Alkitab. Cawan itu menjadi saksi atas janji suci, sebuah pengorbanan diri yang harus diemban tiap murid dan umat-Nya, yang menerima dan melanjutkan ajaran-ajarannya. Pramuhendra juga menggantikan nilai pengorbanan sang Yesus dengan menghadirkan cetakan sepatunya dengan membuat lubang bekas paku menembus telapak. Sepatu yang dihadirkan bukanlah sepatu masa ketika Yesus hidup, atau menghadirkan telapak kaki Nya yang luka bolong bekas paku di kayu salib, tapi sepatu kets olah raga yang Pramuhendra gunakan sehari-hari. Simbolisasi yang dilakukan Pramuhendra tentang pengorbanan merupakan upaya tafsiran yang melampaui konteks perjamuan terakhirnya Leonardo menuju pada suatu ungkapan yang personal atas nilai serta drama sang Yesus.

Penutup
Dengan karya-karya yang seluruhnya bernuansa hitam putih: arang di atas kanvas, Foto-dijital, objek dan instalasi serta objek-objeknya, Pramuhendra menghadirkan suasana yang enigmatik dan menciptakan nuansa klasik. Hitam-putihnya juga menyediakan ruang, tempat tersedia spektrum ketegasan gelap-terang, dan tempat kekaburan abu-abu semakin terasa haru juga mendalam dalam kesederhanaannya. Keterampilannya dalam menggambar tak lagi menghalanginya dalam menghadirkan sebuah drama senja sang Yesus. Olahan foto-dijital sebagai acuan seolah terlumat oleh garis-garis hitam pekat yang ia pindahkan ke atas kanvas dengan penuh intensitas. Meski demikian, foto-foto dijitalnya pun tak kurang bernilai dalam menyampaikan sebuah gagasan. Olahan fotografi dengan perangkat lunak komputer dengan lugas bisa memberikan gambaran tentang konsepsi sang seniman dengan jernih.

Kerja artistik Pramuhendra mampu memberikan arti baru pada drawing, karena kepekaannya terhadap medium, berhasil membangkitkan estetika yang begitu mendasar, yakni kekuatan rasa terhadap realitas yang kompleks melalui sebatang arang hitam. Ini adalah suatu kekuatan primitif yang terdorong oleh konstruksi imaji mutakhir. Inilah suatu yang menarik dari para perupa abad informasi. Walaupun kemampuan fotografi dan komputer bisa saja menumpulkan keterampilan tangan dan dikhawatirkan membunuh praktik seni lukis, namun perupa dan kurator Asmudjo J. Irianto pernah kemukakan bahwa seni lukis tak pernah mengalami usang. Dalam konteks perkembangan seni rupa mutakhir yang diyakini bisa berupa apapun dan mengenai apapun, maka dengan serta merta seni lukis menjadi bagian sah di dalamnya—seperti juga segala medium dan kemungkinan lain. 5 Begitupun drawing Pramuhendra, ia seolah tampil namun dengan sikap yang berbeda, tak terjebak cara-cara lama.

Pendekatan dengan metode yang dilakukan Pramuhendra menjadi semakin menarik dalam konteks perkembangan seni rupa di Indonesia, saat kondisi jaman pasca industri dan pasca kolonial menyediakan keluasan dan kebebasan penjelajahan berbagai imaji dalam ruang yang lebih personal. Pembedahan menyeluruh yang dilakukannya terhadap imaji Last Supper berupaya meninjau kembali dan melampaui mitos-mitos yang menyelubungi maha karya Leonardo dan sekaligus makna dari drama perjamuan terakhir. Ia mengajak kita pada petualangan spiritual dan perenungan terhadap sebuah kejadian sejarah dalam ruang imajinasi yang konstruktif dan kritis, bukan untuk menolak atau melemahkan keberadaan dan nilai-nilainya, tapi untuk membangun konstruksinya yang baru dan memberinya ruang dan ruh yang segar dalam keberlangsungan kehidupan kita saat ini dan masa depannya. ***

Jakarta , Maret 2008

Footnotes:

1. New American Bible

2. Donald Sasoon in Mona Lisa, The History of the World’s Most Famous Painting (Harper Collins Publisher. 2002) especially on the chapter Cult of Leonardo, pp. 61 – 93.

3. Read the classic essay of Walter Benjamin, The Work of Art In The Age of Mechanical Reproduction, in Illuminations: Essay and Reflections, edited by Hannah Arendt, Shocken Book, New York, 1969, pp. 217 – 251.

4. See the introduction on the exhibition of On Appropriation by Rifky Effendy, Galeri Semarang, 2007.

5. Asmudjo J. Irianto’s statement in the curatorial note of Digital Realisme, Cemara 6 Galeri, Jakarta, 2007. Website: https://cemara6galeri.wordpress.com/previous-year-events/event-2007/digital-realism-on-line-catalogue/
last-supper-performed-2.jpg last-supper-performed-1-test-kecil.gif

Artist’s Bio

J ARIADHITYA PRAMUHENDRA
13 Agustus 1984 , Semarang – Indonesia

Education
BFA, Printmaking Major, Art Dept.
Bandung Institute of Technology, Bandung 2007

Solo Exhibition :

2008
On Last Supper , Cemara 6 Galeri , Jakarta

Selected Group Exhibitions

2007
– Invasi Bandung, Galeri Canna, Jakarta
– Petisi Bandung, Galeri Langgeng, Semarang
– Errata-Optika, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
– On Appropriation, Galeri Semarang, Semarang
– Preview Bandung New Artist, Cemara 6 Galeri, Jakarta
– Seven, Galeri Sumarja, Bandung

2006
Re : Siapakah Aku (published on Khazanah, Pikiran Rakyat Newspaper)
The 12th International Biennale Print and Drawing Exhibition, National Taiwan Museum of Fine Arts

2005
Tubuh dalam Drawing, Ci+ Gallery, Bandung
Human + Space, Galeri Soemardja, Bandung

2004
Pabrik Artifisial, Kedai Kebun Forum Gallery, Yogyakarta
SM 3025, Galeri Soemardja, Bandung

2003
Ekologi Demokrasi, Lebak Siliwangi, Bandung

2002
Inkubasi, Aula Timur ITB, Bandung

Awards :

2006
Honorable Mention, Drawing Award,The 12th International Biennale Print and Drawing Exhibition, National Taiwan Museum of Fine Arts

Behind the scenes

on-last-supper_032.jpg on-last-supper_028.jpg p1010814.jpg p1040742.jpg

Opening Night

p1020119.jpg p1020124.jpg p1020129.jpg p1020133.jpg

8 Responses to “Online Catalogue On Last Supper by J.A. Pramuhendra”

  1. Patriot Mukmin Says:

    Ndra, tunggu gw nyusul ,haha

  2. adepasker Says:

    wow….bagussekali…semogasuccsefullyah dengan planing kedepannya lagi…!

  3. japanblankets Says:

    Kreatif! Good work!

  4. paul oeschger Says:

    i m interest in buying artwork from PRAMUHENDRA / please contact me if there are works available
    thanks paul

  5. m@nda Says:

    makasih yaah untuk informasinya… lengkap banget & sangat membantu sy dalam mengerjakan tugas.. =)

  6. idan Says:

    kaya nya anda akan menjadi pelukis yg akan di kenang slamanya….

  7. idan Says:

    sukses slalu mas… don’t forget me… hahahahahahahha…

  8. krisy Says:

    proud of you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s