DENDANG DAGING
Pameran Tunggal Loranita Theo

\

22 April – 15 Mei 2008

Tempat:
Cemara 6 Galeri
Jl. HOS. Cokroaminoto No: 9 – 11. Menteng
Jakarta 10350

Pembukaan:
Selasa , 22 April 2008
Jam 19.30 WIB

Diresmikan oleh :
Tisna Sanjaya, Perupa dan Dosen di FSRD-ITB

Catatan Kuratorial

daging-dombret-100-x-135-cm

Dendang Daging

Loranita Theo (Nita) menghadirkan beragam citra lukisan tentang suatu dari keseharian bahkan menjadi bagian dalam tubuh mahluk hidup : Daging. Namun citra daging – daging dalam pandangan Nita menjadi berbeda, baik penggarapan secara visual maupun maknanya. Daging sebagai organ tubuh manusia atau mahluk hidup lain merupakan elemen penting karena daging berfungsi sebagai pengikat organ-organ tubuh yang vital, seperti tulang, urat syaraf maupun lainnya. Daging menjadi pelindung dan sekaligus membentuk dasar tubuh sebelum bagian terluar, yakni lapisan kulit. Daging bisa dilihat sebagai aspek perantara ruang internal maupun eksternal dalam konteks anatomi tubuh.

Nita memandang daging sebagai suatu gejala artistik dan estetik, secara permukaan maupun makna bagi dirinya. Daging bagi Nita mempunyai beberapa nilai, pertama daging sebagai daging, atau sebagai bentuknya sendiri yang mempunyai serat-serat dan lapisan-lapisan yang membentuknya. Sayatan dan potongan daging menantang daya artistik maupun psikologis Nita untuk mengolah secara formal. Tekstur, lapisan, dimensi warna, dan bentuknya. Dari karyanya yang berjudul “Dendang Daging” dan “ Perjalanan Daging” , kita bisa amati bagaimana potongan daging mentah yang kemerahan secara apik digarap dengan seksama bagian rincinya. Serat-serat yang kebiruan maupun lemak berwarna keputihan masih menempel. Menciptakan kontras serta nuansa abstraksi dengan latar yang merata (flat).

Bagi Nita seonggok daging mentah adalah suatu yang menjijikan dan membuatnya traumatik sejak kecil. Bahkan beberapa lama ia tak bisa mengonsumsi makanan dari daging. Pengalaman ini mungkin juga dialami oleh banyak orang, namun kemudian ia justru menghampirinya, menelaah dari dekat, menjadikannya subyek utama lukisannya. Melukiskannya menjadi semacam terapi terhadap rasa jijik itu, mengobati rasa takutnya sendiri. Daging mentah seolah menjadi suatu penolakan terhadap kenyataan yang ada didalam tubuh kita , seperti benda asing atau sang lain ( the other atau alien ) yang bersemayam didalam diri kita sendiri. Nita menanggulanginya dengan jalan pendekatan artistik, mengakrabi tiap potensi yang ada pada permukaannya.

Kita bisa amati dua karya lainnya “ Studi Daging “ dan “ Studi Daging Putih”, yang berupa lukisan potongan daging berwarna pucat seperti tergantung, keduanya dikembarkan namun yang satunya diberi warna lebih memutih hingga terkesan membeku. Dimensi formal pada daging yang lebih cenderung berwarna pastel dengan rinci tekstur kulit dan transparansi lapisan – lapisan kulit bawah dan daging. Pada karya “ Dagingku Ada Lima “ serta “ Tiga Daging Troya”, olahan artistiknya dengan memberi warna dan pengulangan bentuk pada daging yang hampir seluruhnya masih utuh tergantung. Menyajikannya dengan atraksi bentuk yang tanda-tandanya mulai berevolusi pada wujud benda lain.

Dari permainan visual ini, kemudian ia juga menambahkan elemen lain. Seperti pada karyanya “Tergantung Pada Kancing 1 dan 2 “ , ia menambahkan objek kancing berbahan resin diatas kanvasnya. Munculnya objek tersebut membuat makna daging itu bergeser : membuatnya seolah bagian dari pakaian mempunyai hubungan dengan dunia keperempuanan Nita atau alih-alih bermetafor dengan ilusi daging sebagai bagian dari lapisan tubuh manusia.

Nita beranjak selangkah menuju pemaknaan personal terhadap subyeknya. Dengan permainan tanda bentuk formal potongan daging ia membuat asosiasi kedalam bentuk bukit seperti pada karya “ Bukit Daging “. Serta menggabungkannya dengan imaji permainan lego seperti pada karya “ Dongeng Daging”. Kedua karya ini seolah mencerminkan bahwa rasa takut itu bisa ditanggulangi dengan mempermainkannya dan mengalihkannya ke dalam ruang imajinasi pada pemandangan alam. Sedangkan pada karya lainnya, seperti “ Daging Dombret” dan “ Duet Dombret” , Nita seolah sedang bermain-main dengan hubungan tanda atau bentuk formal dengan tubuh manusia, terutama bagian bokong. Dengan menambahkan obyek gelang resin pada imaji daging paha maupun menggambarkannya dari sudut tertentu.

Akhirnya Nita membawa kita pada dunia daging, dari mulai bentuknya yang utuh hingga kemudian memberinya cara pandang yang khas. Sehingga apa yang disajikan tentunya membuka kita pada persepsi berbeda atas sesuatu yang kita abaikan, tak diperhatikan bahkan dihindari. Dengan garapan artistik serta konsepsi , seonggok dan sepotong serpihan daging ternyata bukan saja daya tarik artistik tapi juga memberikan makna bagi bagian tubuh manusia maupun mahluk hidup lainnya. ( Rifky Effendy, Kurator )


Curriculum Vitae

Loranita Theo, lahir di Medan tahun 1970. Setelah lulus dari seni lukis , Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB tahun 1999, ia kemudian tinggal di kota kecil Jatiwangi. Sejak masih terdaftar sebagai mahasiswi. Nita banyak mengikuti berbagai loka karya dan pameran bersama di Bandung dan Jakarta, namun beberapa tahun sempat vakum berpameran. Pada tahun 2005, bersama suami dan teman-temannya di Jatiwangi mendirikan Jatiwangi Art Factory (JAF), sebuah kelompok yang berinisiatif membuat beragam kegiatan artistik. JAF sempat berpameran di Galeri Kita Bandung tahun 2006 dan pada tahun 2007 lalu mengikuti video festival OK di Galeri Nasional Indonesia. Tahun yang sama kelompoknya mengikuti pameran Tanda Kota di TIM-Jakarta. Pameran Dendang Daging, merupakan pameran tunggalnya yang pertama secara individual.

Ucapan Terima kasih
Kepada Tisna Sanjaya, Ibu Prof. Dr. Toeti Heraty, Dr. Inda C. Noerhadi MA. Arief Yudi, Anggota Jatiwangi Art Factory, Staff Cemara 6 Galeri, Kepada seluruh media massa, penulis seni, kolektor seni, serta teman-teman yang tak bisa disebutkan namanya satu persatu.