INVITATION

Cemara 6 Galeri, National Gallery of Indonesia and Centre Culturel Français (CCF) – Jakarta cordially invite you to attend the opening of the exhibition

SALIM / SIAPA SALIM
At his 100th birthday

Tuesday, 2nd September 2008.
At 16.30

Officiated by
Mr. Fauzi Bowo

Governor of DKI Jakarta.

National Gallery of Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur No: 14
Jakarta Pusat

Followed with ‘Buka Puasa’

The exhibitions is open for public until 14th September 2008
Monday – Saturday : 10.00 – 19.00
Sunday : 11.00 – 18.00

Wednesday, 3rd September 2008
At 15.00 – 17.00

Art Talk with
Dr. Agus Burhan (Art Historian)
Ajip Rosidi (Poet)
Bambang Budjono (Art Critics)

Moderated by
Bambang Subarnas

Seminar Room, National Gallery of Indonesia

Followed with ‘ Buka Puasa’

Salim was born near Medan in 1908. When he turned 12 (1920), he set off to Europe and stayed there until 1931, the time when he came back to his nation and joined Mohammad Hatta in Indonesia National Education Party (Partai Pendidikan Nasional Indonesia), up until 1934. The situation at that moment felt imprisoning, especially when his friends – including Mohammad Hatta and Sutan Sjahrir – were captured and exiled by the Dutch colonial government. Salim preferred freedom although it was not easy to obtain. He managed to escape and directly went to France, the place he was already familiar with. He temporarily stayed in Marseille, and moved on to Paris, a place to go for painters from all over the world who craved for freedom. A little time after, he was interested to move to Sete, a small town on the South of France coastline. Not for long though, as he moved back to Paris, which was commonly known as the centre of European culture. This place has become his final residence up until now, followed by a few visits to Indonesia in 1954, 1956, 1971, 1974 and 1990, sometimes to exhibit his works. This exhibition itself will show Salim’s works since the ’50-s up to 2004. There will also be the screening of an interview with Salim, some photographs, and other archives.

Salim’s works will be exhibited alongside the works of today’s artists, such as: Eddie Hara, Muhammad Reggie Aquara, Tommy Aditama Putra, Indra Gunadharma, Hamdan Omar, Syahrizal Pahlevi, Helmut Huang, Bibianna Lee, Nurhidayat, Magdalena Pardede, Mujahidin Nurrachman, Yus Herdiawan, Dandi Achmad Ramdhani (Achong), Erik Pauhrizi, Yogie Achmad Ginanjar, E. Ariardian Pramunindyo. Each of them will interpret the figure or the works of Salim into their own perspective.

Visit Page : https://cemara6galeri.wordpress.com/

Petualangan Sunyi SALIM

Tepat bulan September tahun 2008 nanti, seorang ‘maestro’ seni lukis Indonesia bernama Salim akan memasuki usianya seabad. Gelar maestro memang belum disandangnya , karena ia memang hampir belum dikenal oleh khalayak seni di tanah air secara luas. Namun bila kita tinjau perjalanan Salim secara artistik dan juga kehidupan pribadinya, cukup alasan untuk mengajukannya sebagai salah satu perintis seni rupa modern. Bukan hanya karena pengaruh gaya melukis kubisme di Paris, sebuah kota yang hingga kini tinggal disana.

Tetapi juga karena rasa nasionalismenya yang cukup besar dalam dirinya. Bahkan ia sempat ikut dalam perjuangan kemerdekaan bersama para tokoh pendiri bangsa serta seniman lain. Salim secara pribadi dekat dengan tokoh – tokoh politik nasional seperti Hatta dan Syahrir.

Salim sejak kecil tinggal di Eropa, Amsterdam dan kemudian menghabiskan umurnya di Paris, Perancis. Belajar melukis pada beberapa seniman maestro Eropa seperti Ferdninand Leger, pelukis kubisme dunia. Walaupun begitu kehidupan Salim di perantauan sangatlah sederhana, senang bergaul dengan masyarakat sekitarnya. Sekaligus juga bahwa Salim adalah sosok yang idealis terhadap keseniannya. Ketekunannya dalam dunia seni lukis memang terbukti. Tiap karya – karya yang di hasilkannya mengandung keartistikan yang tinggi dan sangat teliti. Kepekaan terhadap bentuk, warna dan garis tercermin didalamnya menjadi kekuatan dan khas.

Dalam diri Salim tersimpan semangat nilai-nilai budaya; antara timur dan barat. Keanggunan estetika Perancis yang berdampingan harmonis dengan kekayaan jiwa nusantara. Pertemuan-pertemuan dua budaya ini dengan matang dihadirkan dalam tiap karyanya.

Sudah kewajiban kita untuk memberikan cakrawala pada generasi sekarang dan masa depan untuk mengetahui karya-karya Salim. Memberikan penghargaan pada salah satu sosok perintis seni rupa modern tanah air. Maka upaya menghadirkan Salim kedalam sejarah seni rupa Indonesia bukan saja perlu. Tapi juga penting bagi rantai pemaknaan dunia seni modern.nya.

Salim about SALIM

SALIM dan Seni Lukis Modern

Paris terkenal sebagai kota seni rupa sedunia. Meskipun pengalaman saya di bidang itu boleh dikatakan nihil, saya sangat mengagumi empat pelukis yang hidup di Perancis pada waktu itu, yaitu Braque, Derain, Picasso dan Matisse. Di Belanda saya suka membeli buku-buku yang kecil ukurannya dengan gambar hitam putih mengenai karya masing-masing pelukis itu, sehingga muncul keinginan untuk mengunjungi Perancis. Saya tidak mempunyai pendidikan mengenai seni lukis, impressionisme saja tidak kenal namanya. Saya datang tanpa rencana yang jelas. Ternyata untuk seterusnya saya hidup di Perancis walaupun tetap sebagai warga negara Indonesia. Saya harus mencari kerja. Saya mengunjungi sanggar-sanggar seni lukis (ateliers) satu persatu dengan harapan ada yang memerlukan pesuruh. Akhirnya masuk dalam ateliers Ferdinand Léger, seorang pelukis yang terkenal sebagai penganut cubisme dan sebagai pengganbar dunia buruh dan industri. Saya diterima oleh seorang nyonya yang gemuk sekali, Fiora Quatrocchi namanya. Dia orang Amerika peranakan Italia. Dia mirip dengan tokoh-tokoh wanita yang gendut dalam lukisan Léger.

Banyak sekali pelukis yang saya senangi atau kagumi, meskipun itu tidak berarti bahwa saya terpengaruh oleh karya mereka. Ketiga bangsa yang terbesar dalm bidang itu di Eropa tentu saja Itali, Belanda dan Perancis. Saya sangat menghargai pelukis Itali; Uccello dan Giotto, pelukis Belanda; Bosch dan Rembrandt, pelukis Perancis; Monet, Manet (dan seluruh periode impressionisme) Toulouse Lautrec, Cézanne dan Picasso, tetapi juga orang Spanyol seperti Goya atau orang Jerman seperti Cranach. Nilai sebuah lukisan tidak tergantung pada keindahannya. Seni lukis itu bukan sesuatu yang enak. Goya dan Picasso umpamanya pernah menghasilkan lukisan yang tidak enak dilihat namun agung. Itu pula tidak berarti bahwa pelukis boleh menyampaikan perasaan apa saja melalui karyanya. Kalau sedang menderita lebih baik diam saja. Masalah pribadi tidak saya tonjolkan dalam lukisan. Kalau pelukis sebuah pemandangan pegunungan di Pyrennées misalnya, saya mengutamakan pemandangan itu sendiri daripada kepribadian saya. Gunung itu telah saya pandang pada waktu pagi, siang dan sore, saya telah mengamati pohon dan tumbuh-tumbuhannya, saya telah memegang batu-batunya, saya telah bergaul dengan penduduknya. Semua itu sudah saya rasakan, dan itulah yang berusaha saya curahkan dalam lukisan.

SALIM dan satsra

Seperti kebanyakan kedai kopi di Paris, orang datang ke situ untuk duduk dan bersantai selama berjam-jam, sambil minum-minum, ngobrol, baca koran, atau melamun. Asal pesan minuman satu kali saja, kopi misalnya, boleh nongkrong di situ sepanjang malam. Seringkali orang mulai berkenalan dan bercakap-cakap di tempat itu. Di Dôme itulah saya pernah bertemu dengan orang Belanda yang boleh dikatakan mengantar saya ke dunia sastra. Saya masih ingat buku Perancis pertama yang saya baca, yaitu Jérôme a 600 de latitude nord (Jérôme pada garis lintang 600 Jérôme Utara) oleh Maurice Bedel, yang menceritakan pengalaman seorang Perancis di Norwegia. Novel itu serta pengarangnya sudah ditelan masa. Selanjutnya saya mendalami bahasa Perancis dengan banyak membaca koran, dan saya terjun dalam dunia kesusasteraan dengan penuh semangat. Sastra menjadi amat penting buat saya. Teman-teman bercakap-cakap di Dôme memperkenalkan karya Valéry Larbaud kepada saya.

Di antara pengarang yang paling mengesankan saya selanjutnya termasuk Céline (Voyage au bout de la nuit – Perjalanan ke Ujung Malam – saya anggap sebuah karya agung) kemudian juga karya-karya Zola, Balzac, Stendhal, Barbey d’Aurevily, dan lain-lain. Novel Merah dan Hitam oleh Stendhal telah saya baca berkali-kali. Ada pengarang yang saya kagumi sebagai seorang seniman ulung, Balzac misalnya, ada juga yang saya baca dengan perasaan ingin tahu. Zola umpamanya bukan pengarang hebat menurut saya, tetapi karyanya telah saya baca seluruhnya sebagai dokumen yang tidak tertandingi mengenai masyarakat Perancis pada abad yang silam. Selain karya-karya prosa saya juga mencintai puisi, misalnya sajak Arthur Rimbaud (”O saisons, ô chateaux”, dan lain-lain), Du Bellay, Baudelaire, Nerval, Mallarmé dan Valéry.

SALIM dan Tanah Air

Saya bekerja di Académie Ferdinand Léger dari tahun 1929 sampai dengan 1932. pada tahun 1932 itu secara kebetulan saya memperoleh kesempatan untuk pulang ke Indonesia. Dengan demikian saya tinggal di Batavia selama empat tahun pada tahu 1932 – 1935. Waktu itulah saya bergaul Sutan Sjahrir, yang sedikit banyak mempengaruhi saya. Sjahrir pernah saya jumpai sebelumnya di Amsterdam pada tahun 1928 atau 1929, yaitu sebelum didirikan PNI dan PSI. Dia menyatakan pada saya bahwa sosialisme akan melahirkan sebuah masyarakat yang lebih adil serta orang-orang yang lebih cakap. Mula-mula saya menganggap pendapat itu ganjil dan tidak masuk akal, bagaimana sosialisme bisa menelorkan orang yang lebih tampan dan cantik? Tetapi lama-lama saya menyadari bahwa dia benar, dan pertemuan itu memupuk minat saya terhadap masalah politik.

Di Batavia saya juga berkenalan dengan H. Agus Salim, dan saya belajar bahasa Arab dari beliau. Lebih dari lima puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1989, saya kembali belajar bahasa Arab. Walaupun waktu saya hanya sedikit, dan saya sadar bahwa saya tidak akan pernah fasih berbahasa Arab itu, namun saya senang belajar sebagai manifestasi minat saya terhadap kebudayaan Arab yang terlalu sering diremehkan orang Eropa. Bunyi bahasa itu sangat merdu di telinga saya, dan hurufnya pun bagaikan sumber kenikmatan yang tak habis-habisnya.

Tahun 1956 saya diberi kesempatan baru untuk pulang ke Indonesia oleh teman akrab saya Sutan Syahsam, adik Sutan Sjahrir. Saya memilih pulang naik kapal dagang supaya dapat singgah di macam-macam pelabuhan. Di Indonesia saya sempat berjumpa dengan beberapa teman lama, berkenalan dengan orang baru, termasuk sejumlah seniman, dan melakukan perjalanan yang sangat menarik ke daerah yang belum pernah saya kunjungi, antara lain ke Bali. Setahun kemudian saya kembali lagi ke Perancis.

Di Paris saya tetap tinggal di Rue de Copenhague dan terus melukis. Saya sudah berumur sekitar lima puluh tahun dan barangkali pendidikan saya sebagai pelukis sudah berakhir. Namun saya sudah terbiasa hidup di Paris, dan saya masih memerlukan lingkungan kota tersebut sebagai perangsang dalam bidang seni. Mau tidak mau seorang pelukis pasti terpengaruh. Tidak ada karya yang seratus persen asli. Tiap orang dipengaruhi negeri asalnya, negeri tempat tinggalnya serta lukisan-lukisan yang pernah dilihatnya. Orang bilang garis sangat penting dalam lukisan saya, dan barangkali suatu sifat warisan saya sebagai orang Indonesia.

SALIM dan PARIS

Pada tahun 1961 terjadi perubahan besar dalam hidup saya, bekerja sebagai salah seorang staf KBRI atas desakan sahabat saya Hadi Thayeb. Waktu untuk melukis tentu saja menciut secara drastis, sebab hanya bisa melukis pada hari Sabtu dan Minggu. Saya merasa tergesa-gesa mengerjakannya, dan tidak menghasilkan karya yang bagus selama beberapa tahun. Dari segi lain saya banyak belajar dari pekerjaan saya di Kedutaan. Saya sempat menyelami dunia pers dan politik, kadang-kadang juga memperoleh kesempatan untuk berjalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri, dan mendapat pengalaman yang baru dibandingkan dengan kehidupan saya sebelumnya. Dari segi ekonomi saya juga membaik, sehingga saya dapat pindah ke daerah Neuilly, ke sebuah flat kecil yang masih saya diami sekarang ini.
Setelah selama enam belas tahun menyumbangkan tenaga di KBRI saya pensiun, dan menyambung pula kehidupan saya sebagai pelukis. Saya merasa bertambah tua. Kota Paris ini telah mengalami banyak perubahan, termasuk perubahan yang mengecewakan. Namun saya telah tinggal di sini selama lebih dari setengah abad. Kota Paris dan negeri Perancis boleh saya kritik mati-matian, tetapi tetap saja saya cintai. Di negeri itulah saya berhasil melaksanakan idam-idaman saya, yaitu mempertahankan kepribadian dan kebebasan saya.

Quotations

Bahasa:

SALIM Oleh Trisno Soemardjo

(….) Keterangan tentang riwayat hidup seorang seniman memang perlu kita ketahui, apalagi seorang seperti Salim ini yang dengan tegas dan meyakinkan sekali menghadirkan ciri sebagai seniman yang berarti. Maka penyelenggaraan seperti ini tiada lain kecuali menggembirakan. Sebab seorang seniman paling tepat kita kenal dari hasil-hasil kerjanya sendiri, dan apa yang dihidangkan membuat kami tak ragu-ragu menyebut Salim salah satu pelukis bangsa kita yang terbesar serta pantas mendapat kedudukan yang layak di dunia Internasional, Hal ini tiada kami sebut dengan suatu pretense; hanyalah kami ingin membuat imbangan terhadap mereka yang menyebut Salim seorang yang terlepas dari masyarakat bangsanya sendiri karena terlalu lama tak menginjak bumi tanah airnya sendiri. Dikuatirkan oleh mereka, Salim lambat laun tak akan berguna lagi bagi masyarakat kita, karena katanya tiada berakar pada kehidupan dan kekuatan masyarakat Indonesia.

Bagi kami tiadalah seharusnya kita terlalu tegang membagi-bagi lapangan kesenian dalam pengertian-pengertian nasional °© Internasional, Timur-Barat, klasik-modern, dan sebagainya. Kita harus tahu sampai kemana pagar-pagar itu tak perlu dipasang, dan akhirnya kehidupan serta pertumbuhan yang hakiki tak mau kenal lagi pagar-pagar itu. Apalagi istilah °Ænasional’ lama kelamaan terlalu memperoleh bunyi politis, karena aksen diletakkan pada merebut pengakuan kebangsaan, kekuasaan dan soal-soal yang geografis, sedangkan latar belakang kerohanian bagi semuanya ini masih samara-samar, pun kebanyakan masih minta disalurkan atau dicari lebih dahulu. Orang mempersoalkan kenasionalan, sedangkan orang masih payah mencari, bagaimana akan membentuknya dan apakah dasar kerohaniannya. Menurut pendapat kami, kebudayaan nasioanal tak mungkin disulap saja dari puncak-puncak kebudayaan daerah-daerah yang hendak dijasikan eksponen dari kesegalaan hasil-hasil budaya di Indonesia, sebabnya ialah karena kehidupan sekarang jauh berbeda.(…)

(…) Di samping bakatnya, seorang seniman perlu mengembangkan kepribadian ini. Pembentukan pribadi pertama-tama membutuhkan kesadaran yang mendalam tentang dirinya sendiri dan tentang soal-soal yang penting bagi kesenimannya, terutama sadar akan watak diri dan sadar seni (rasa, visi maupun teknik). Kedua-duanya kita ketemukan pada Salim serta pada beberapa pelukis di Indonesia semenjak zaman Persagi (1937). Justru inilah yang menyebabkan kebangunan mereka, dan inilah pula merapatkan Salim pada rekan-rekannya sebangsa yang belum pernah melawat keluar negeri. Hendak kami namakan ini persamaan antara mereka dalam hal semangat jiwa yang menentukan isi.(…)

(°¶) Sejalan dengan itu ada pula persamaan dalam hal pemakaian alat-alat termasuk isme-isme yang menentukan gaya, cara dan bentuk. Bahwa yang tersebut terakhir ini tiada amat penting, kami harap sudah tak usah kami jelaskan lebih lanjut. Yang penting ialah isi. Maka setelah menonton hasil Salim itu, dengan sekaligus kami merasa bahwa dia adalah satu di antara kita, bahwa nafas yang dihembuskan Salim adalah nafas kita. Dalam keadaan demikian kita sebetulnya hanya dapat berkata di dalam hati saja : inilah kesenian sejati yang kita inginkan. Lain habislah kata-kata di mulut. Tak ubahnya seperti kita terima Raden Saleh, meskipun kedua-duanya mengalami hak berbeda dari kita. (…)

(…) Dengan ini tibalah kita pada soal kaum modernis, yang di dalamnya Salim ikut tergolong. Uraian di atas menurut faham kami adalah cukup guna membentangkan latar belakang kebatinan bagi kaum ini. Modernis bagi kami bukan hanya berarti orang-oang yang hidup di zaman sekarang dengan memakai dasar-dasar filsafat serta cara-cara yang lazim di zaman kini, akan tetapi juga mereka harus mempunyai pandangan ke depan yang mengandung benih bagi perkembangan selanjutnya. Dengan perkataan lain: pada hasil-hasil kerjanya adalah daya motoris yang hendak mendorong masyarakat bangsanya ke kemajuan di hari depan.(….)

English

SALIM By Trisno Soemardjo

(…) An explanation about an artist’s life story is certainly important for us to value, especially for such artist like Salim, who has boldly and confidently shows a character of a significant artist. Therefore, this event is nothing but good news. The best way to judge an artist is by appreciating his own works, and what has been presented here forces us to undoubtedly call Salim one of our biggest painter, who deserves to be well-positioned in the international scene. I’m not saying this in pretence; simply a statement to balance those who call Salim as someone who pulled himself apart from his root, for staying abroad for such a long time. They are afraid that Salim would slowly be insignificant for our community because he has not lived and had the strength of the Indonesian society.

I think, we should not be worry too much about dividing arts into the meanings of ‘national’-‘international’, ‘East’-‘West’, ‘classic’-‘modern’, and so on. We should be able to see where the boundaries can be ignored, so that our lives and definite progression will not recognize those borders anymore. Especially the term ‘national’, where each day sounds to be more politicized because it is always accentuated by the gaining of nationwide recognition, power, and geographic matters; while the spiritual background of them is still unclear, and therefore most people wants it to firstly be delivered or discovered. People argue about nationalism, meanwhile others still suffer to find how to create it and to determine its spiritual principles. In my opinion, our national civilization cannot simply be captivated from the peaks of local cultures, presented with the exponent of the Indonesian divers culture; the reason is because we are now living very differently (…)

(..) Apart from his talent, an artist should be able to develop his own personality. A personality development, firstly, needs a deep self-consciousness and also a sense to capture important artistic values, especially the awareness of his-own habits and his sense of art (feelings, vision, and techniques). Both of them can be found in Salim and in some other artists since the Persagi (The Association of Indonesian Art Teachers) Era (1937). These are the things that built them together, and these are also the matters that bring Salim closer to his homeland friends who had never been abroad. This, I shall call, is a similarity in spirit that later determines the content.

In the meantime, there are also similarities in the using of tools and the ‘ism’ that influence their styles, techniques, and objects. The previous thing mentioned is not significant; we shall not spend too much time talking about it. What’s important is the content. Thus, after over-viewing Salim’s work, I can feel that he is one of us, his ambience is our ambience. Facing this kind of situation made me say to myself: “this is a genuine kind of art that we need”. Nothing more to say. This is exactly how we accepted Raden Saleh, even though they (these two painters, ed.) received different recognitions from us. (..)

(..) Now we get to talk about the modernists, where Salim is classified in. The explanation above, I think, has elaborated enough spiritual background of this community. Modernist, in my opinion, does not only point to the present populace who lives with the latest basic principles and today’s lifestyle, but also those who has visions ahead of time, containing seeds for future developments. In other words, his works have motor power to push his fellow citizens to progress into the future. (…)

SALIM By A.D. Pirous

(..) Pada 33 tahun yang lalu, pelukis Salim memamerkan karya lukisannya di Balai Budaya, jl. Gereja Theresia, Jakarta. Pameran yang menampilkan karya-karyanya dengan warna-warna cemerlang, bentuk-bentuk yang mudah ditebak, dengan situasi menyenangkan, seakan-akan telah menggambarkan surga hijau di belahan bumi tropis. Saya bersama But Muchtar sempat bertemu dengan Salim ketika pemasangan pameran tersebut dalam rangka mengajak Salim untuk memberikan ceramah di Galeri Soemardja, Departemen Seni Rupa ITB.(…)
(…)Ceramah dan diskusinya yang bersejarah dan dihadiri juga oleh Ries Mulder, di galeri Soemardja merupakan sentakan dalam gemuruhnya perbincangan seni lukis Mazhab Bandung yang digunjingkan oleh sebagian kritikus seni sebagai sangat kebarat-baratan saat itu. Pikiran-pikiran Salim dilontarkan dalam diskusi mengajak untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup seni itu sendiri. Gugatannya membuat kita merenung dan terus bertanya. Salim seorang pelukis yang bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, yang terbiasa dengan ruang luas yang lebih bebas, mencipta dengan nalar yang lebih terbuka. Dengan pamerannya saat itu, seakan ia ingin memperjelas ucapan pikirannya secar visual.(…)
(…)Lukisannya masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Secara keseluruhan sangat terasa akan warna warnanya yang redup, mantap, kecoklatan. Garis-garis lirisnya sangat efektif ketika melukisnya beberapa ruang arsitektur yang vertical. Ada perasaan damai, suara batin yang senilai dengan nafas religious, pada lukisan gereja ataupun masjid yang ia tampilkan. Memang agak berbeda dari lukisan-lukisan cemerlang di masa pameran di Balai Budaya dahulu yang hangat dan ceria (1957). (…)

english

(…) 33 years ago, Salim exhibited his works in Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia, Jakarta. In this exhibition, his works showed vivid colors, predictable objects, in pleasing situation, kind of the resemblance of the green paradise of the tropical world. (The late) But Muchtar and I had the chance to meet Salim at the installment of the exhibition, in order to ask him to give a lecture in the Soemardja Gallery, The Art Department, ITB.(…)

(…) This historical lecture and discussion was also attended by Ries Mulder in Soemardja Gallery, and was a big blow in the sizzling arguments about Mazhab Bandung’s (Bandung’s genre) paintings that were considered too Western by the art critics. Salim’s idea that were brought out in this discussion asked us not to be drown in technical excellence in order to explore the Indonesian modern art, but also to fill it in with the warmth of content, the warmth of art’s life itself. His statement made us pondered and kept wondering. Salim is a painter living in Paris, working in the heart of world-class art scene, accustomed with larger and freer space, and creating in a more open sense. His exhibition, at that time, visually resembled his thoughts.(…..)

Chronology of Salim

1908
(3 September) born near Medan, North Sumatera, Indonesia

1919
Followed a German-Dutch couple to Europe to be put into school

1928
Completed Gymnasium in Holland; his interest in painting brought him to Paris for the first time, and then he studied in Academie de la Grande Chaumi_re

1929-1932
Learned painting in Academie Fernand Leger

1929
Met S. Sjahrir and M. Hatta in Amsterdam who awakened his Indonesian root consciousness

1932
Returned to Indonesia as a foster child in the Djoehana family

1932-1935
Worked in De Java Neon Company in Jakarta, Indonesia, and in the mean time helped S.Sjahrir and M. Hatta running PNI-Pendidikan (Indonesia National Party for Education) and Daulat Ra’jat Magazine.

1935
Went back to Holland soon after the arrestment of Sjahrir and Hatta whom was exiled to Boyen, Digul.

1936
Returned to Paris to live as a painter. Spent a lot of time in Academie de la Grande Chaumi_re.

1939
Moved back to Holland to hold exhibitions in Amsterdam. People started to buy his paintings.

1940-1945
Joined the resistant group against the German Nazi aggression. Created a lot of illustrations for literature publishing, and donated the money to support the underground movement. He helped out Jewish people from the Nazi’s capture.

1946
Back to Paris, feeling outrage to the Ducth for trying to invade Indonesia again

1947
Traveled to Sete, South of France, and Spain

1947-1949
Being the organizer of Sete’s Youth Club

1948
First solo exhibition in Sete

1949
Solo exhibition in Amsterdam

1951
Solo exhibition in Paris

1951
Solo exhibition in Jakarta (Sticusa)

1956
Solo exhibition in Geneva, Switzerland.
Solo exhibition in Jakarta and Bandung

1957
Solo exhibition in Paris

1958
Solo exhibition in Paris

1964
Solo exhibition in Amterdam

1967
Solo exhibition in Paris

1971
Won a medal in the International Festival de Paris Sud

1972
Won the National Prix, International Festival de la Peinture a Cagnes-sur-Mer.

1973
Received M_daille d’argent, Festival International de Paris-Sud

1974
Solo exhibition in Jakarta and Bandung

1975
Solo exhibition in Bruxelles, Belgia

1990
Solo exhibition in Jakarta and Bandung

1998
The Indonesian Ambassador in Paris, Dr. Satrio B. Judono conducted a reception and exhibition to respect Salim, exactly when he turned 90. Dr. Francois Raillon gave his speech “The Other Salim”.

2001
Solo exhibition in Bali
2002
Solo exhibition in Ikeda-shi, Osaka, Japan

2002
Solo exhibition in Paris

2002
Solo exhibition in Bruxelles

2005
Solo exhibition in Cemara 6 Gallery
Salim’s book launching by Ajip Roidi

2008
SALIM/Who’s SALIM exhibition, The Nationa Gallery of Indonesia, Jakarta


Karya – Karya :

Pelabuhan di Eropa I. 60 x 92 cm. 1989. Oil On Canvas

1001 Malam . 55 x 45 cm. 1983. Oil On Canvas

Tomatoes . 60 x 50 cm . 1983 . Oil on Canvas

Karangan Bunga . 65 x 53 cm . 1988 . Oil on Canvas

Catalugna. 80 x 65 cm . 1977 Oil On Canvas

Bunga Kuning I . 55 x 45 cm . 1990 Oil On Canvas